Kamis, 22 September 2016

Menulis dengan Logika Ala Pidi Baiq




foto: Syifa Nadia Puteri

Sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP) sekitar tahun 2009. Aku banyak dijejali musik-musik indie. Terutama band-band indie asal Bandung yang kala itu marak populasinya. Dari sekian banyak band tersebut, aku menemukan satu lagu di playlist kakakku yang judulnya agak nyeleneh berjudul "Tonk Gandeng" yang artinya "Jangan Berisik". Nama bandnya pun tidak kalah anehnya yaitu, The Panas Dalam. Mulanya, aku hanya terkekeh menemukan ada lagu seperti ini, begitu mendengarkannya aku terpingkal-pingkal. Kok ada ya, orang senyeleneh buat lagu seperti itu.
   Lirik dalam lagu tersebut awalnya kupikir hanya lirik biasa yang dibuat dengan iseng, seperti "Tonk gandeng, aya nu gering. Urang mah bae, da dulurna. Ha-ha-ha..." jika dibahasa Indonesiakan kira-kira seperti ini "Jangan berisik, ada yang sakit. Aku sih boleh, kan saudaranya. Ha-ha-ha". Setelah aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), aku baru menyadari bahwa lagu tersebut menyindir praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dimana kita boleh melakukan apa pun yang menyimpang jika kita memiliki kedekatan dengan penguasa.
    Lagu lain dari The Panas Dalam yang sama nyelenehnya adalah "Rintihan Kuntilanak", "Budak Baheula", "Phedophillia", dan masih banyak lainnya. Setelah kutelusuri, otak dibalik kenyelenehan band ini adalah Pidi Baiq. Orang yang mengklaim dirinya sebagai Imam Besar The Panas Dalam ini, selain menjadi musisi juga seorang penulis. Novelnya yang fenomenal ialah Dilan, novel tersebut terbagi menjadi dua bagian yaitu, Dilan: Dialah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan: Dialah Dilanku Tahun 1991.
    Ditemui di kafe The Panas Dalam miliknya, di kawasan Saparua, Bandung, pria yang kerap disapa Ayah ini bercerita mengenai proses kreatif dibalik tulisan-tulisannya. Memikirkan tentang banyak hal adalah kunci utama. Saking banyak yang ia pikirkan, hingga ia memikirkan suatu hal yang out of the box, tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Orang lain cenderung menganggapnya remeh-temeh, tetapi baginya memiliki makna.
    Tersebutlah ayam dan nyamuk. Dalam pikirnya, ayam yang selalu datang ke rumah, kemudian orang rumah berusaha untuk mengusir, ayam tersebut tidak pantang menyerah, ia tetap datang ke rumah dengan menyamar menjadi ayam goreng. Lalu nyamuk, Pidi menaruh perasaan iri terhadap hewan ini. Hewan yang kecil, tetapi dialah satu-satunya hewan yang berani menggigit presiden dan polisi. Dia saja yang berukuran badan jauh lebih besar dari nyamuk tersebut tidak dapat melakukannya.
     Kita mungkin bisa tertawa dengan cerita ayam dan nyamuk. Akan tetapi, apakah Pidi Baiq dapat disalahkan dengan statement demikan? Tentu tidak! Hal-hal tersebut memang terkesan humor, tetapi jika ditelaah memang benar adanya. Dalam tulisannya, Pidi Baiq menggunakan alasan-alasan logis dalam memandang suatu hal. Penggunaan logika ini dikemas menjadi tulisan yang ringan dan enak dibaca, bahkan orang-orang tidak akan menyadari ketika membaca tulisan Pidi Baiq, logikanya juga sedang turut serta.
    Buah dari pemikiran Pidi mengenai banyak hal ini, tidak hanya berupa pikiran konyol tentang ayam dan nyamuk saja, tetapi dapat berupa kutipan-kutipan romantis yang terdapat pada novel Dilan. Salah satunya adalah "Jangan rindu, ini berat. Kau tak akan kuat. Biar aku saja.", kutipan ini menggambarkan kasih sayang seseorang yang tau akan beratnya menahan rindu, kemudian ia menawarkan diri untuk menanggung beban rindu tersebut, karena tidak tega pada pasangannya. Ini bukan puisi cinta yang di dalamnya terdapat kata-kata puitis yang sukar dipahami. Hanya kalimat singkat, tetapi "ngena". Romantismenya lebih "dapet", ketimbang puisi romantis yang harus ditelaah untuk mengerti artinya. Kembali lagi, logika ikut bermain di sini.
    Dari cerita Pidi Baiq ini, memberikan pemahaman bahwa proses kreatif dan inspirasi-inspirasi dalam menulis itu bisa didapat dari hal-hal yang ada disekitar kita. Yang dibutuhkan adalah tingkat kepekaan kita terhadap hal-hal kecil yang terdapat disekitar. Be aware! 

Kamis, 01 September 2016

Nuhun Malela: Menyambangi "Mini Niagara Waterfalls" Curug Malela


Kali ini saya akan bercerita pengalaman saya berkunjung ke Curug Malela awal tahun lalu. Hmmm… bicara tentang curug yang artinya air terjun, Bandung Barat memang memiliki beberapa air terjun dengan ketinggian yang variatif. Di daerah Parongpong, Cimahi sendiri terdapat air terjun seperti Curug Cimahi, Curug Pelangi, Curug Layung yang sudah dijadikan objek wisata. Belum lagi curug yang belum terjamah, karena belum dijadikan objek wisata seperti Curug Bugbrug. 

Curug Bugbrug, Parongpong, Cimahi

  Berangkat jauh dari air terjun-air terjun tersebut, Kabupaten Bandung Barat memiliki air terjun yang dijuluki “mini Niagara waterfalls”. Meski masih terletak di Kabupaten Bandung Barat, untuk menuju tempat tersebut diperlukan waktu tempuh selama kurang lebih empat jam dari pusat kota Bandung (dari artikel-artikel yang saya baca sih cuman tiga jam, tapi saya nyampenya segitu).

Lokasi Curug Malela
Terletak di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Sindanglaya, Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat Curug Malela ini memang memiliki tingkat kesulitan yang ekstra untuk dikunjungi. Mulai dari jaraknya yang jauh dari kota Bandung, hingga jalan menuju curug ini yang sulit dilalui kendaraan bermotor, terutama motor-motor matic dan bebek, karena jalannya yang masih terdiri dari bebatuan juga lumpur.
  Dari pusat kota Bandung, untuk menuju curug ini kami melewati Cimahi - Batujajar - Cihampelas - Cililin - Sindang Kerta - Gunung Halu - Bunijaya. Untuk kamu yang ingin mengunjungi tempat ini, persiapkan matang-matang estimasi waktu (waktu itu saya baru jalan jam 09:00). Berangkat pagi sekali, supaya pulangnya gak kemaleman (kaya saya) :( Soalnya bakal banyak kejadian tak terduga buat kamu yang pertama ke tempat ini, apa lagi kalau ke sananya banyakan.
  Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang indah, jika sudah melewati Cililin, hamparan kebun teh Montaya bakal bikin mata seger. Belum lagi aliran sungai yang kamu susuri, gemerciknya bikin adem telinga. Dari Bunijaya untuk menuju Desa Cicadas diperlukan kehati-hatian yang ekstra, karena jalan yang akan dilalui sangat terjal dan terdiri dari batu-batuan. Ditambah lagi saat itu sedang musim hujan, jalanan menjadi berlumpur dan licin, terdapat banyak kubangan yang mengancam keselamatan. Meski perlu perjuangan ekstra, motor matic dan bebek kami masih bisa melewatinya. Pastikan kendaraan kamu dalam kondisi yang prima ya, kalau mau ke sini.

Jalan berlumpur banyak kubangan
© Eem

Pastikan kondisi motornya dalam keadaan baik, ya.
© Nisa

yang dibonceng harus turun dan jalan kaki biar motor tetap stabil
© Eem


Objek Wisata Curug Malela
Setelah melewati jalan yang bikin sakit perut, kami sampai di pintu masuk dengan membayar tiket sebesar Rp.10.000, kemudian istirahat di sebuah warung yang terdapat di sana. Tempat parkirnya sudah cukup luas dapat menampung kurang lebih 70 motor dan lima mobil. Akan tetapi, akan sangat riskan jika membawa mobil ke tempat ini, kecuali mobil khusus off road
lokasi parkir dan pintu masuk
©Eem

Kami tidak dapat berlama-lama istirahat di sini, karena dari pintu masuk harus melanjutkan trekking selama satu jam untuk menuju Curug Malela :’)
  Jalur trekking-nya sudah di kondisikan oleh pengelola objek wisata, dengan adanya anak tangga dan besi pembatas. Setelah itu, kami melewati persawahan, melalui jalan setapak. 

jalur trekking pada awal pintu masuk
©Eem

Anak tangga penuh lumpur huhu
©Eem

masih jalur anak tangga yang penuh lumpur
©Eem

Jalur trekking melewati pepohononan
©Eem

Pemandangan sawah yang dapat ditemui di jalur trekking
©Eem


Di jalur trekking terdapat space untuk melihat Curug Malela dari kejauhan. Hal tersebut menyemangati kami untuk segera sampai sana:’)

Curug Malela dari kejauhan 1
©Nisa

Curug Malela dari kejauhan 2
©Nisa


Sangat tidak recommended untuk ke sini pada saat musim hujan, karena jalur trekking selanjutnya hanya jalan setapak yang terdiri dari tanah merah yang kalau musim hujan jadi sangat licin. Kemudian, kami menuruni anak tangga yang hanya dibuat dari batang-batang pohon. Makin sulit lah jalannya :(
masih di jalur trekking
©Nisa

Pakai sepatu khusus trekking, ya. Minimal running shoes. Jangan yang begini bentuknya.
©Nisa


Curug Malela
Setelah menyusuri jalur trekking, menanjak dan menuruni anak tangga selama kurang lebih satu jam, sampailah kami di “mini Niagara waterfall” sekitar pukul 14:00. Subhanallah ya:’) terdapat sedikit tempat seperti ground untuk sekedar gelar tikar atau anak outdoor mah biasanya bawa fly sheet buat alas duduk sambil menikmati Curug Malela yang indah dan memesona. Terdapat pula tempat yang dapat digunakan untuk berfoto dengan latar Curug Malela. Kalo saya sih selain, foto-foto di sini makan bekel yang dibawa dari rumah he-he. Tau lah ya, gimana lapernya setelah melewati perjalanan tadi:(
  Curug Malela ini salah satu lukisan Tuhan di tanah Pasundan yang indah menurut saya. Debit airnya sangat besar, karena sedang musim hujan pula airnya menjadi cokelat, enggak bening kaya di foto-foto yang saya temui di google:’) tapi tidak sedikit pun mengurangi keindahan curug ini Masya Allah:’) Jadi sekali lagi tidak disarankan untuk ke sini pada musim hujanya, ya.





diambil pakai lensa fix, jadi dekat sekali
©Nisa
abaikan penampakan saya yang hinyai to the max
©Liska


  Karena debit airnya yang besar, tidak ada yang berenang di aliran curug ini. Kalau sekedar main air mah boleh lah ya. Main-main di bebatuan gitu. Tetap hati-hati ya, karena licin:( menghabiskan waktu untuk foto-foto, tak lama kemudian… hujan turun:’) kebetulan di situ ada satu warung yang pakai terpal. Satu warung itu dijadikan tempat berteduh semua pengunjung:’) sesak sih, udah pasti. Alhasil, gabisa banyak ambil foto, khawatir kamera basah:( Tapi ambil hikmahnya saja ya, toh walaupun enggak bisa diabadikan dengan foto, bisa diabadikan dengan tulisan seperti ini. He-he.
mereka yang bermain-main di bebatuan
©Nisa


Enggak ada yang berenang, airnya gede gitu
©Nisa

Guyang dalam kekhawatrian:(
©Nisa

  
Nuhun Malela
Perjalanan menuju tempat parkir tidak menjadi lebih mudah:’) karena kami harus kembali melewati jalur trekking dengan menanjak huhu. Priceless moment sekali memang. Ada yang sampai lepas sepatunya, karena memang sangat licin. Sepatu-sepatu kami pun ada yang sudah tidak berbentuk sepatu. Ada yang sandal gunungnya copot juga, pokonya banyak macamnya:( Fisik yang prima sangat diperlukan ketika kamu memutuskan untuk mengunjungi Curug Malela, karena memang menguras banyak tenaga.


Licin cin cin cin
©Eem
kami pulang kesorean huhu
©Eem

  Kami pulang kesorean, bahkan saat hari mulai gelap masih harus berkutat dengan jalanan berbatu dan lumpur huhu. Belum lagi ada insiden nyasar waktu pulang, nyasarnya jauh lagi:( terus ada teman kami yang hipotermia, karena waktu perjalanan pulang itu memang turun hujan. Ah pokoknya #NuhunMalela. Saya sampai rumah dengan selamat dan pakaian kotor pukul 00:00.
  Trip ke Curug Malela ini kasih pembelajaran bahwa Bandung itu tidak sekedar Cibaduyut - Asia Afrika - Dago - Lembang. Bandung Raya itu luaaaaaaaaaaaaas sekali. Nuhun Malela. Sekian