Kali ini saya akan bercerita pengalaman saya berkunjung ke Curug Malela awal tahun lalu. Hmmm… bicara tentang curug yang artinya air terjun, Bandung Barat memang memiliki beberapa air terjun dengan ketinggian yang variatif. Di daerah Parongpong, Cimahi sendiri terdapat air terjun seperti Curug Cimahi, Curug Pelangi, Curug Layung yang sudah dijadikan objek wisata. Belum lagi curug yang belum terjamah, karena belum dijadikan objek wisata seperti Curug Bugbrug.
![]() |
| Curug Bugbrug, Parongpong, Cimahi |
Berangkat jauh dari air terjun-air terjun tersebut, Kabupaten Bandung Barat memiliki air terjun yang dijuluki “mini Niagara waterfalls”. Meski masih terletak di Kabupaten Bandung Barat, untuk menuju tempat tersebut diperlukan waktu tempuh selama kurang lebih empat jam dari pusat kota Bandung (dari artikel-artikel yang saya baca sih cuman tiga jam, tapi saya nyampenya segitu).
Lokasi Curug Malela
Terletak di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Sindanglaya, Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat Curug Malela ini memang memiliki tingkat kesulitan yang ekstra untuk dikunjungi. Mulai dari jaraknya yang jauh dari kota Bandung, hingga jalan menuju curug ini yang sulit dilalui kendaraan bermotor, terutama motor-motor matic dan bebek, karena jalannya yang masih terdiri dari bebatuan juga lumpur.
Dari pusat kota Bandung, untuk menuju curug ini kami melewati Cimahi - Batujajar - Cihampelas - Cililin - Sindang Kerta - Gunung Halu - Bunijaya. Untuk kamu yang ingin mengunjungi tempat ini, persiapkan matang-matang estimasi waktu (waktu itu saya baru jalan jam 09:00). Berangkat pagi sekali, supaya pulangnya gak kemaleman (kaya saya) :( Soalnya bakal banyak kejadian tak terduga buat kamu yang pertama ke tempat ini, apa lagi kalau ke sananya banyakan.
Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang indah, jika sudah melewati Cililin, hamparan kebun teh Montaya bakal bikin mata seger. Belum lagi aliran sungai yang kamu susuri, gemerciknya bikin adem telinga. Dari Bunijaya untuk menuju Desa Cicadas diperlukan kehati-hatian yang ekstra, karena jalan yang akan dilalui sangat terjal dan terdiri dari batu-batuan. Ditambah lagi saat itu sedang musim hujan, jalanan menjadi berlumpur dan licin, terdapat banyak kubangan yang mengancam keselamatan. Meski perlu perjuangan ekstra, motor matic dan bebek kami masih bisa melewatinya. Pastikan kendaraan kamu dalam kondisi yang prima ya, kalau mau ke sini.
![]() |
| Jalan berlumpur banyak kubangan
© Eem
|
| Pastikan kondisi motornya dalam keadaan baik, ya.
© Nisa
|
![]() |
| yang dibonceng harus turun dan jalan kaki biar motor tetap stabil
© Eem
|
Objek Wisata Curug Malela
Setelah melewati jalan yang bikin sakit perut, kami sampai di pintu masuk dengan membayar tiket sebesar Rp.10.000, kemudian istirahat di sebuah warung yang terdapat di sana. Tempat parkirnya sudah cukup luas dapat menampung kurang lebih 70 motor dan lima mobil. Akan tetapi, akan sangat riskan jika membawa mobil ke tempat ini, kecuali mobil khusus off road.
![]() |
| lokasi parkir dan pintu masuk
©Eem
|
Kami tidak dapat berlama-lama istirahat di sini, karena dari pintu masuk harus melanjutkan trekking selama satu jam untuk menuju Curug Malela :’)
Jalur trekking-nya sudah di kondisikan oleh pengelola objek wisata, dengan adanya anak tangga dan besi pembatas. Setelah itu, kami melewati persawahan, melalui jalan setapak.
![]() |
| jalur trekking pada awal pintu masuk
©Eem
|
![]() |
| Anak tangga penuh lumpur huhu
©Eem
|
![]() |
| masih jalur anak tangga yang penuh lumpur
©Eem
|
![]() |
| Jalur trekking melewati pepohononan
©Eem
|
![]() |
| Pemandangan sawah yang dapat ditemui di jalur trekking
©Eem
|
Di jalur trekking terdapat space untuk melihat Curug Malela dari kejauhan. Hal tersebut menyemangati kami untuk segera sampai sana:’)
| Curug Malela dari kejauhan 1
©Nisa
|
| Curug Malela dari kejauhan 2
©Nisa
|
Sangat tidak recommended untuk ke sini pada saat musim hujan, karena jalur trekking selanjutnya hanya jalan setapak yang terdiri dari tanah merah yang kalau musim hujan jadi sangat licin. Kemudian, kami menuruni anak tangga yang hanya dibuat dari batang-batang pohon. Makin sulit lah jalannya :(
![]() |
| masih di jalur trekking
©Nisa
|
| Pakai sepatu khusus trekking, ya. Minimal running shoes. Jangan yang begini bentuknya.
©Nisa
|
Curug Malela
Setelah menyusuri jalur trekking, menanjak dan menuruni anak tangga selama kurang lebih satu jam, sampailah kami di “mini Niagara waterfall” sekitar pukul 14:00. Subhanallah ya:’) terdapat sedikit tempat seperti ground untuk sekedar gelar tikar atau anak outdoor mah biasanya bawa fly sheet buat alas duduk sambil menikmati Curug Malela yang indah dan memesona. Terdapat pula tempat yang dapat digunakan untuk berfoto dengan latar Curug Malela. Kalo saya sih selain, foto-foto di sini makan bekel yang dibawa dari rumah he-he. Tau lah ya, gimana lapernya setelah melewati perjalanan tadi:(
Curug Malela ini salah satu lukisan Tuhan di tanah Pasundan yang indah menurut saya. Debit airnya sangat besar, karena sedang musim hujan pula airnya menjadi cokelat, enggak bening kaya di foto-foto yang saya temui di google:’) tapi tidak sedikit pun mengurangi keindahan curug ini Masya Allah:’) Jadi sekali lagi tidak disarankan untuk ke sini pada musim hujanya, ya.
| diambil pakai lensa fix, jadi dekat sekali
©Nisa
|
![]() |
| abaikan penampakan saya yang hinyai to the max
©Liska
|
Karena debit airnya yang besar, tidak ada yang berenang di aliran curug ini. Kalau sekedar main air mah boleh lah ya. Main-main di bebatuan gitu. Tetap hati-hati ya, karena licin:( menghabiskan waktu untuk foto-foto, tak lama kemudian… hujan turun:’) kebetulan di situ ada satu warung yang pakai terpal. Satu warung itu dijadikan tempat berteduh semua pengunjung:’) sesak sih, udah pasti. Alhasil, gabisa banyak ambil foto, khawatir kamera basah:( Tapi ambil hikmahnya saja ya, toh walaupun enggak bisa diabadikan dengan foto, bisa diabadikan dengan tulisan seperti ini. He-he.
| mereka yang bermain-main di bebatuan
©Nisa
|
| Enggak ada yang berenang, airnya gede gitu
©Nisa
|
| Guyang dalam kekhawatrian:(
©Nisa
|
Nuhun Malela
Perjalanan menuju tempat parkir tidak menjadi lebih mudah:’) karena kami harus kembali melewati jalur trekking dengan menanjak huhu. Priceless moment sekali memang. Ada yang sampai lepas sepatunya, karena memang sangat licin. Sepatu-sepatu kami pun ada yang sudah tidak berbentuk sepatu. Ada yang sandal gunungnya copot juga, pokonya banyak macamnya:( Fisik yang prima sangat diperlukan ketika kamu memutuskan untuk mengunjungi Curug Malela, karena memang menguras banyak tenaga.
![]() |
| Licin cin cin cin
©Eem
|
![]() |
| kami pulang kesorean huhu
©Eem
|
Kami pulang kesorean, bahkan saat hari mulai gelap masih harus berkutat dengan jalanan berbatu dan lumpur huhu. Belum lagi ada insiden nyasar waktu pulang, nyasarnya jauh lagi:( terus ada teman kami yang hipotermia, karena waktu perjalanan pulang itu memang turun hujan. Ah pokoknya #NuhunMalela. Saya sampai rumah dengan selamat dan pakaian kotor pukul 00:00.
Trip ke Curug Malela ini kasih pembelajaran bahwa Bandung itu tidak sekedar Cibaduyut - Asia Afrika - Dago - Lembang. Bandung Raya itu luaaaaaaaaaaaaas sekali. Nuhun Malela. Sekian















Tidak ada komentar:
Posting Komentar