Sabtu, 06 Agustus 2016

Selain Terdapat Rumah Pohon, Kareumbi juga Merupakan “Rumah” bagi Pohon

Terletak di tiga kabupaten sekaligus yaitu, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang, Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK) menjadi ekowisata berbasis lingkungan. Selain itu, kawasan ini juga dijadikan sebagai hutan konservasi. Terdapat penangkaran rusa, area perkemahan, jogging track, dan rumah pohon yang selalu menjadi spot andalan para pengunjung.


Perjalanan yang ditempuh sekitar 13 KM dari Cicalengka tidak akan terasa jauhnya, jika disuguhi keindahan alam yang menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Persawahan terbentang seluas mata memandang, ditengahnya terdapat aliran sungai yang berasal dari Curug Cinulang, pada musim hujan air itu berwarna cokelat tercampur tanah, gemercik suaranya memanjakan setiap telinga yang mendengar. Dikelilingi bukit-bukit hijau membuat segarnya udara pedesaan lebih terasa dan sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang sesak dengan asap knalpot dan polusi limbah pabrik. 

  Meski sudah diaspal, terdapat beberapa jalan berlubang yang dapat membahayakan keselamatan pengendara. Dikarenakan musim hujan, terdapat longsoran tanah yang menutupi setengah badan jalan. Namun, longsoran tanah itu tak dibiarkan terlalu lama, dengan segera warga setempat bergotong-royong untuk membersihkan timbunan tanah yang menutupi setengah badan jalan tersebut. Agar jalan yang menjadi akses menuju Kareumbi dapat dilalui oleh pengendara. 
  
  Jalan dengan batu kerikil menyambut kedatangan para wisatawan di Kareumbi. Meski begitu, motor matic dan motor bebek masih bisa melaluinya. Dengan membayar tiket sebesar Rp11.250, suasana alam yang riuh dengan suara burung-burung saling bersahutan, rindangnya pepohonan, dan udara yang tidak terkontaminasi polusi sudah dapat dinikmati. Menurut Kepala Pengelola TBMK Darmanto, Kareumbi ini awalnya dikelola oleh Perhutani. Namun, kini kawasan ini diamanahkan kepada Wanadri sebagai pengelola. Di sini, Wanadri ditantang agar tak hanya naik gunung, tetapi juga menjaga dan mengelola gunung. Dalam pengelolaan ini, Wanadri sama sekali tidak mendapat keuntungan material sepeser pun. Biaya yang dikeluarkan pengunjung untuk tiket masuk murni untuk membayar masyarakat sekitar yang bekerja di kawasan Kareumbi.
  
  Dalam hal ini, pihak Wanadri secara tidak langsung memberi edukasi kepada warga sekitar untuk mencintai dan menjaga alam yang dianugerahkan Tuhan pada wilayahnya. Warga diajak untuk menjaga alam dengan cara mempekerjakannya dalam mengelola kawasan Kareumbi ini. Dalam hal parkir kendaraan pengunjung, pihak Wanadri menyerahkan wewenang pada Karang Taruna sekitar. Dengan demikian, kekayaan alam yang berada di wilayah Kareumbi dapat dirasakan manfaatnya oleh warganya sendiri.

rumah pohon menjadi spot yang diminati pengunjung
pengunjung menjadikan rumah pohon sebagai spot berfoto
rumah pohon memiliki beberapa desain berbeda

  Di kawasan Kareumbi ini terdapat beberapa area yang cukup menarik seperti, penangkaran rusa, Desa Wisata Cigumentong, jogging track, bike track, perkemahan, dan yang selalu menjadi spot favorit pengungjung ialah rumah pohon. Di spot tersebut, pengunjung biasanya berfoto dengan latar rumah pohon. Pohon-pohon yang terdapat di area rumah pohon tersebut juga acap kali dijadikan spot untuk hammocking, ayunan gantung yang diikatkan di batang pohon satu dan pohon lainnya yang belakangan sedang hits di kalangan anak muda. 
naik ke hammock
hammock juga dapat dipasang di kolong rumah pohon
take a selfie!
Uniknya, tak hanya memiliki rumah-rumah panggung yang terbuat dari pohon, Kareumbi ini juga merupakan rumah bagi pohon. Melalui program “Wali Pohon” yang dicanangkan Wanadri untuk kelestarian alam di Kareumbi menjadikan Kareumbi ini “rumah” bagi pohon-pohon. 
  
  Program Wali Pohon ini ditujukan bagi para pengunjung Kareumbi. Pengunjung yang ingin ikut andil dalam melestarikan alam Kreumbi dapat mengikuti program ini dengan mengeluarkan biaya Rp50.000 untuk satu pohon atas nama individu dan Rp100.000 atas nama komunitas. Biaya tersebut dialokasikan untuk garansi dan perawatan pohon selama tiga tahun. Pengunjung yang berpartisipasi dalam program Wali Pohon ini akan mendapat sertifikat sebagai bukti keikutsertaan dalam program Wali Pohon. Pohon yang telah ditanam di kawasan Kareumbi murni atas nama dan milik partisipan. Pohon tersebut terjamin perawatannya dan tak akan hilang, karena partisipan dapat log in melalui website Kareumbi untuk memantau pertumbuhan pohon yang ditanamnya.
  
  Fachrurroji salah satu pengunjung Kareumbi yang ikut berpatisipasi dalam program Wali Pohon mengaku, tempat ini menyuguhkan sejuta ilmu yang bermanfaat. “Tempat ini bisa menjadi alternatif destinasi ngadem yang anti-mainstream”, tuturnya. Fachrurroji juga mengapresiasi etika dan tanggung jawab sosial Wanadri yang mampu memberdayakan warga sekitar sebagai pekerja dan strategi agar warga sekitar dapat ikut andil menjaga kelestarian alam di sekitar tempat tinggalnya. Kareumbi dan pengelolaan yang profesional oleh Wanadri patut menjadi contoh pengelolaan taman konservasi-konservasi kekayaan alam lainnya, baik di Jawa Barat, maupun provinsi lainnya di Indonesia. 
  
  
  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar