Sabtu, 13 Mei 2017

Analogi Bahagia dalam Cinta

Ilustrasi foto: http://samosoverhenstvovanie.ru

And baby, everytime you touch me
(Dan sayang, setiap kamu menyentuhku)
I become a hero
(Aku menjadi seperti pahlawan)
I’ll make you safe
(Aku akan membuatmu aman)
No matter where you are
(Di mana pun kau berada)
Sepenggal lirik lagu When You Tell Me That You Love Me yang dinyanyikan Westlife dan Diana Ross. Lagu tersebut diputar di ruang seminar dan dinyanyikan bersama oleh peserta seminar. Mereka terhanyut dalam romantisme lagu yang menceritakan kebahagiaan seseorang ketika pasangannya mengatakan cinta padanya.
       Seminar PsyClub 2017 yang menjadi acara tahunan Senat Psikologi Universitas Kristen Maranatha (UKM) ini bertajuk “Does Happiness Exist? Let’s Find Out!”. Digelar di Gedung Serba Guna (GSG) lantai 1 UKM, seminar ini dihadiri sekitar 300 peserta pada Sabtu, 29 April 2017. Salah satu pembicaranya ialah Prof. Dr. Sawitri Supardi Sardjoen., Psi. yang menjelaskan tentang attachment and positive relationship with others.
            Di usia senjanya, wanita kelahiran Jakarta, 24 Maret 1943 ini begitu semangat menerangkan bahagia yang bisa didapatkan dengan menjalin hubungan yang positif. Sawitri mengawali pembahasannya dengan menerangkan istilah attachment dalam psikologi. Ia menuturkan, attachment adalah suatu hal yang terkait dengan relasi yang kuat antar dua individu yang satu sama lain merasa sangat dekat seraya keduanya melakukan berbagai hal untuk menjaga relasi mereka.
            “Attachment itu artinya keikatan emosi, di mana ikatan itu sifatnya saling mengisi, dan sangat bermakna bagi kedua orang yang terikat secara emosional,” ujar Sawitri.
            Aplikasi dari attachment Sawitri analogikan melalui lagu When You Tell Me That You Love Me yang dinyanyikan Westlife dan Diana Ross. Dalam lagu tersebut, terdapat hubungan attachment dan compassion (keharuan). Keharuan berkembang pada lirik “I wanna hold you close, under the rain” di mana seseorang menyatakan keinginannya untuk memeluk pasangannya di bawah turunnya hujan. Keharuan tersebut merupakan akibat dari keterikatan emosi yang terjalin antara dua pasangan yang saling mencintai.
         “Bayangkan! Jadi, mencari cinta itu tidak mudah. Harus berusaha, ya! Cari-cari yang lagi musim hujan,” Sawitri bergurau, ia dan peserta seminar terkekeh.
             Peserta seminar disapanya dengan sebutan “cucu”. Sebab menurut nenek dari sepasang cucu ini, mahasiswa yang menjadi peserta seminar sebaya dengan cucunya yang sudah mahasiswa juga. Sawitri begitu ramah berdialog dengan peserta seminar dan pembicara lainnya, yang ikut menyaksikan pemaparan materi dari Sawitri.
             Guru Besar di Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran ini melanjutkan, efek ikatan emosi dan keharuan terhadap kebahagiaan. Pada lirik “I’m shining like a candle in the dark, when you tell me that you love me”, kebahagiaan optimal yang diperoleh dua sejoli. Ketika pasangannya mengatakan cinta, kemudian pasangan lainnya merasa dirinya seolah cahaya lilin yang memancar dalam kegelapan. Ungkapan tersebut merupakan manifestasi dari cinta kasih yang terjalin dapat memancarkan rasa bahagia dan membuat pasangannya merasa lebih berarti.
            Ketika ditanya mengenai arti kebahagiaan, ia berpendapat bahwa kebahagiaan itu sulit untuk dipastikan. Setiap orang memiliki perbedaan dalam menghayati berbagai situasi dan momen yang menyebabkan seseorang merasa bahagia. Kebahagiaan merupakan hasil integrasi dari rasa tenang, terpesona karena melihat keindahan, sesuatu yang inspiratif, hal-hal yang diminati, pertemanan hakiki, dan juga harapan.
           “Yang paling penting, di antara kehadiran momen yang kita rasakan, ada momen-momen yang membangkitkan perasaan positif, perasaan nyaman,” pungkas Sawitri.
            Pemaparan materi yang disampaikan Sawitri ringan, layaknya ngobrol santai. Hal ini diakui oleh salah satu peserta seminar, Ifa. Menurutnya, dari empat sesi seminar yang ada, pembahasan Sawitri yang paling menarik.
            “Soalnya cara dia ngebawain sesi rame,” ungkap Ifa.

           Kebahagiaan adalah sesuatu yang fana. Kita tidak tahu kapan kita akan mendapat kebahagiaan, seberapa lama kebahagiaan itu dapat bertahan, dan apa makna dari kebahagiaan itu sendiri. Setidaknya, pertanyaan-pertanyaan itulah yang melatarbelakangi Yohana Irma, sebagai Ketua Pelaksana Psyclub 2017 mengadakan seminar dengan tema kebahagiaan.

Tulisan ini sudah dimuat di student.cnnindonesia.com pada Jumat,12/05/2017.

(Tugas Praktik Lapangan 2, Penulisan Berita Khas)

Sisi Lain Logika Mahasiswa

Foto: Instagram thesoum_upi
Alvin menunjukan aliran sulap fakirnya pada gelaran Mantra: The Night Magic Show pada Jumat (12/08/2016)

Mahasiswa hidup di lingkungan pendidikan yang sarat akan pengetahuan. Sebagai ‘agen perubahan’ mahasiswa mengemban tugas untuk dapat menciptakan penemuan-penemuan melalui berbagai riset. Untuk dapat melakuan hal tersebut, diperlukan pola pikir mendasar yang perlu dimiliki mahasiswa yakni, logis dan kritis.
            “Mahasiswa hakikatnya dibentuk untuk memiliki pola pikir ilmiah, di mana mereka berpikir bukan semata-mata karena refleks dugaan. Melainkan, karena ada landasan secara logis,” ujar Fachrurroji, mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
            Fachrurroji mengilustrasikan, adanya skripsi sebagai tahap akhir menuju kelulusan. Dengan penyusunan skripsi, pola pikir ilmiah seorang mahasiswa diuji untuk membuat suatu pengetahuan baru. Tak hanya dalam skripsi, menurutnya, masalah yang selalu muncul dalam berbagai konteks, memerlukan cara berpikir yang logis untuk menciptakan solusi dari sebuah permasalahan.
            Selain itu, mahasiswa identik dengan pola pikir yang kritis. Pola pikir seperti ini membuat mahasiswa dapat menemukan kekeliruan-kekeliruan yang terjadi pada suatu perbuatan tertentu. Di Universitas Padjadjaran (Unpad) saja, pada dua tahun kepemimpinan Rektor Unpad Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr., Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad membuat kuisioner untuk mengevaluasi kinerjanya. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui pencapaian-pencapaian mana yang harus dievaluasi dan mana yang harus dikritisi.
            “Ranah mahasiswa itu lembaga keilmuan, mereka diidentikan dengan ilmu di dalam institusi tersebut, yang mana dalam pencarian ilmu itu daya kritis dan logika jadi syarat,” ujar Mulia Ramdhani, Ketua Lembaga Pengkajian & Pengabdian Masyarakat Demokratis (LPPMD) Unpad.
Namun, di tengah konvergensi pola pikir mahasiswa yang logis dan kritis ini terdapat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sulap yakni, The Society of UPI Magicians (The Soum). Apakah dengan adanya kegiatan sulap yang sering dikaitkan dengan hal yang bersifat magis di lingkungan pendidikan ini dapat menggeser cara berpikir mahasiswa yang identik dengan hal yang bersifat ilmiah? Nyatanya tidak.
           
Sains dalam Trik Sulap
Reksha Laksana adalah salah satu dari empat pendiri UKM The Soum. Ditemui di sela-sela latihan sulap di Amplyteater UPI, Reksha antusias bercerita. Sementara adik-adiknya di The Soum sedang mempraktikan “magic on the street” yaitu, “sulap jalanan”. Salah satu anggota The Soum yakni Aji nampak sedang memainkan satu set kartu di hadapan teman-temannya sendiri yang menjadi penonton. Reksha mengungkapkan, karena UKM ini berada di lingkungan pendidikan, maka perlu dicari korelasi antara sulap dan ilmu pengetahuan. Ilmu yang paling erat kaitannya dengan sulap ialah sains. Adapula nantinya ilmu mengenai public speaking, yang perlu dikuasai untuk dapat tampil di hadapan publik.
            “Sulap itu benar-benar bukan magic, tapi dari keterampilan dan dari sains juga,” kata Reksha.
            Reksha mengilustrasikan Joe Sandy, jebolan ajang pencarian bakat The Master itu dapat menjadikan ilmu matematika sebagai suatu pertunjukan yang menghibur. Selain yang dilakukan Joe Sandy dengan ilmu matematikanya, Reksha juga mengungkapkan bahwa aliran sulap fakir (yang biasa melakukan adegan berbahaya) juga tidak lepas dari sains. Menurutnya, aliran sulap fakir justru yang paling erat kaitannya dengan sains.
            Ketika seorang pesulap fakir memasukan paku ke dalam hidung, kemudian memakunya hingga paku tersebut keluar dari mulut. Sebenarnya hal tersebut sama dengan yang dilakukan tenaga medis pada orang sakit yang sudah tidak bisa makan. Bedanya, tenaga medis memasukan selang untuk sampai ke tenggorokan, bukan paku. Adegan memasukan paku ke dalam hidung ini yang pernah dilakukan salah satu pendiri The Soum, Irfan untuk meyakinkan Direktur Mahasiswa ketika mengajukan The Soum untuk menjadi UKM enam tahun silam.
            “Sebenarnya sama saja dengan memasukan selang. Bedanya, kalau selang yang memasukan kan tenaga medis. Kalau paku kesannya jadi seram, dengan catatan paku itu tidak tajam dan sudah disterilkan. Itu tanpa dipaku pun sudah masuk sendiri, karena sudah ada salurannya. Cuman dipaku seperti itu agar lebih dramatis saja,” terang Reksha yang masih mengingat kejadian itu.
            Semua dapat dijelaskan melalu sains. Jika dokter yang melihatnya, kata Reksha, dokter tersebut pasti sudah mengetahuinya. Lantaran dilakukan oleh pesulap dan dilihat oleh orang awam, banyak yang menganggap aliran sulap fakir menggunakan sihir dan ilmu hitam. Reksha menambahkan, dalam melakukan pertunjukan sulap fakir, yang dibutuhkan ialah latihan sampai terampil juga keberanian.

UKM yang Unik
Masih dalam proses latihan The Soum, anggota-anggotanya begitu semangat mengasah keterampilan bermain sulap. Seperti halnya Wildan Habib, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2016 ini mengaku menyukai aliran sulap klasik. Aliran sulap klasik ini merupakan sulap yang menggunakan kartu sebagai mediumnya.
   Foto: Nisa Maria Ulfa
­Kumpul rutin The Soum pada Kamis (30/3) di Kerang, UPI, Setiabudhi, Bandung. Salah satu anggotanya, Aji sedang mempraktikan magic on the street. 

            “Saya suka aliran klasik, tapi baru bisa manipulasi kartu doang. He-he. Kalau teman-teman ada yang fokus di mentalis seperti Deddy Corbuzier,” kata Wildan terkekeh.
            Delapan bulan mengikuti UKM ini, Wildan awalnya tertarik karena The Soum merupakan UKM sulap pertama di Indonesia. Begitupun dengan Asep Supriatna, mahasiswa Pendidikan Akuntansi angkatan 2015 ini mengetahui The Soum dari demonstrasi orientasi pengenalan kampus. Ketika itu, kata Asep The Soum menampilkan trik sulap wanita yang masuk ke dalam kotak, kemudian ditusuk dari berbagai arah, setelah itu wanita tadi keluar dengan kondisi badan yang utuh. Menurutnya, UKM ini unik.

            “Awalnya saya mengira UKM ini berbau mistis, tapi setelah ikut bergabung masuk UKM ini ternyata semua real dan nyata. Ini mah tentang ilmiah saja, bagaimana kita mencari kebenaran tentang sesuatu,” pungkas Asep.

(Tugas Praktik Lapangan 1, Penulisan Berita Khas)