![]() |
| Ilustrasi foto: http://samosoverhenstvovanie.ru |
And baby, everytime you touch me
(Dan
sayang, setiap kamu menyentuhku)
I become a hero
(Aku
menjadi seperti pahlawan)
I’ll make you safe
(Aku
akan membuatmu aman)
No matter where you are
(Di
mana pun kau berada)
Sepenggal
lirik lagu When You Tell Me That You Love
Me yang dinyanyikan Westlife dan Diana Ross. Lagu tersebut diputar di ruang
seminar dan dinyanyikan bersama oleh peserta seminar. Mereka terhanyut dalam romantisme
lagu yang menceritakan kebahagiaan seseorang ketika pasangannya mengatakan
cinta padanya.
Seminar PsyClub 2017 yang menjadi
acara tahunan Senat Psikologi Universitas Kristen Maranatha (UKM) ini bertajuk
“Does Happiness Exist? Let’s Find Out!”. Digelar di Gedung Serba Guna (GSG)
lantai 1 UKM, seminar ini dihadiri sekitar 300 peserta pada Sabtu, 29 April
2017. Salah satu pembicaranya ialah Prof. Dr. Sawitri Supardi Sardjoen., Psi.
yang menjelaskan tentang attachment and
positive relationship with others.
Di usia senjanya, wanita kelahiran
Jakarta, 24 Maret 1943 ini begitu semangat menerangkan bahagia yang bisa didapatkan
dengan menjalin hubungan yang positif. Sawitri mengawali pembahasannya dengan
menerangkan istilah attachment dalam
psikologi. Ia menuturkan, attachment
adalah suatu hal yang terkait dengan relasi yang kuat antar dua individu yang
satu sama lain merasa sangat dekat seraya keduanya melakukan berbagai hal untuk
menjaga relasi mereka.
“Attachment
itu artinya keikatan emosi, di mana ikatan itu sifatnya saling mengisi, dan
sangat bermakna bagi kedua orang yang terikat secara emosional,” ujar Sawitri.
Aplikasi dari attachment Sawitri analogikan melalui lagu When You Tell Me That You Love Me yang dinyanyikan Westlife dan
Diana Ross. Dalam lagu tersebut, terdapat hubungan attachment dan compassion
(keharuan). Keharuan berkembang pada lirik “I
wanna hold you close, under the rain” di mana seseorang menyatakan
keinginannya untuk memeluk pasangannya di bawah turunnya hujan. Keharuan
tersebut merupakan akibat dari keterikatan emosi yang terjalin antara dua
pasangan yang saling mencintai.
“Bayangkan! Jadi, mencari cinta itu
tidak mudah. Harus berusaha, ya! Cari-cari yang lagi musim hujan,” Sawitri
bergurau, ia dan peserta seminar terkekeh.
Peserta seminar disapanya dengan
sebutan “cucu”. Sebab menurut nenek dari sepasang cucu ini, mahasiswa yang
menjadi peserta seminar sebaya dengan cucunya yang sudah mahasiswa juga.
Sawitri begitu ramah berdialog dengan peserta seminar dan pembicara lainnya,
yang ikut menyaksikan pemaparan materi dari Sawitri.
Guru Besar di Fakultas Psikologi
Universitas Padjadjaran ini melanjutkan, efek ikatan emosi dan keharuan
terhadap kebahagiaan. Pada lirik “I’m
shining like a candle in the dark, when you tell me that you love me”,
kebahagiaan optimal yang diperoleh dua sejoli. Ketika pasangannya mengatakan
cinta, kemudian pasangan lainnya merasa dirinya seolah cahaya lilin yang
memancar dalam kegelapan. Ungkapan tersebut merupakan manifestasi dari cinta
kasih yang terjalin dapat memancarkan rasa bahagia dan membuat pasangannya
merasa lebih berarti.
Ketika ditanya mengenai arti
kebahagiaan, ia berpendapat bahwa kebahagiaan itu sulit untuk dipastikan.
Setiap orang memiliki perbedaan dalam menghayati berbagai situasi dan momen
yang menyebabkan seseorang merasa bahagia. Kebahagiaan merupakan hasil
integrasi dari rasa tenang, terpesona karena melihat keindahan, sesuatu yang
inspiratif, hal-hal yang diminati, pertemanan hakiki, dan juga harapan.
“Yang paling penting, di antara
kehadiran momen yang kita rasakan, ada momen-momen yang membangkitkan perasaan
positif, perasaan nyaman,” pungkas Sawitri.
Pemaparan materi yang disampaikan
Sawitri ringan, layaknya ngobrol santai. Hal ini diakui oleh salah satu peserta
seminar, Ifa. Menurutnya, dari empat sesi seminar yang ada, pembahasan Sawitri
yang paling menarik.
“Soalnya cara dia ngebawain sesi rame,” ungkap Ifa.
Kebahagiaan adalah sesuatu yang
fana. Kita tidak tahu kapan kita akan mendapat kebahagiaan, seberapa lama
kebahagiaan itu dapat bertahan, dan apa makna dari kebahagiaan itu sendiri.
Setidaknya, pertanyaan-pertanyaan itulah yang melatarbelakangi Yohana Irma,
sebagai Ketua Pelaksana Psyclub 2017 mengadakan seminar dengan tema
kebahagiaan.
Tulisan ini sudah dimuat di student.cnnindonesia.com pada Jumat,12/05/2017.
(Tugas Praktik Lapangan 2, Penulisan Berita Khas)


