Sabtu, 13 Mei 2017

Sisi Lain Logika Mahasiswa

Foto: Instagram thesoum_upi
Alvin menunjukan aliran sulap fakirnya pada gelaran Mantra: The Night Magic Show pada Jumat (12/08/2016)

Mahasiswa hidup di lingkungan pendidikan yang sarat akan pengetahuan. Sebagai ‘agen perubahan’ mahasiswa mengemban tugas untuk dapat menciptakan penemuan-penemuan melalui berbagai riset. Untuk dapat melakuan hal tersebut, diperlukan pola pikir mendasar yang perlu dimiliki mahasiswa yakni, logis dan kritis.
            “Mahasiswa hakikatnya dibentuk untuk memiliki pola pikir ilmiah, di mana mereka berpikir bukan semata-mata karena refleks dugaan. Melainkan, karena ada landasan secara logis,” ujar Fachrurroji, mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
            Fachrurroji mengilustrasikan, adanya skripsi sebagai tahap akhir menuju kelulusan. Dengan penyusunan skripsi, pola pikir ilmiah seorang mahasiswa diuji untuk membuat suatu pengetahuan baru. Tak hanya dalam skripsi, menurutnya, masalah yang selalu muncul dalam berbagai konteks, memerlukan cara berpikir yang logis untuk menciptakan solusi dari sebuah permasalahan.
            Selain itu, mahasiswa identik dengan pola pikir yang kritis. Pola pikir seperti ini membuat mahasiswa dapat menemukan kekeliruan-kekeliruan yang terjadi pada suatu perbuatan tertentu. Di Universitas Padjadjaran (Unpad) saja, pada dua tahun kepemimpinan Rektor Unpad Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, dr., Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad membuat kuisioner untuk mengevaluasi kinerjanya. Evaluasi ini dilakukan untuk mengetahui pencapaian-pencapaian mana yang harus dievaluasi dan mana yang harus dikritisi.
            “Ranah mahasiswa itu lembaga keilmuan, mereka diidentikan dengan ilmu di dalam institusi tersebut, yang mana dalam pencarian ilmu itu daya kritis dan logika jadi syarat,” ujar Mulia Ramdhani, Ketua Lembaga Pengkajian & Pengabdian Masyarakat Demokratis (LPPMD) Unpad.
Namun, di tengah konvergensi pola pikir mahasiswa yang logis dan kritis ini terdapat Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sulap yakni, The Society of UPI Magicians (The Soum). Apakah dengan adanya kegiatan sulap yang sering dikaitkan dengan hal yang bersifat magis di lingkungan pendidikan ini dapat menggeser cara berpikir mahasiswa yang identik dengan hal yang bersifat ilmiah? Nyatanya tidak.
           
Sains dalam Trik Sulap
Reksha Laksana adalah salah satu dari empat pendiri UKM The Soum. Ditemui di sela-sela latihan sulap di Amplyteater UPI, Reksha antusias bercerita. Sementara adik-adiknya di The Soum sedang mempraktikan “magic on the street” yaitu, “sulap jalanan”. Salah satu anggota The Soum yakni Aji nampak sedang memainkan satu set kartu di hadapan teman-temannya sendiri yang menjadi penonton. Reksha mengungkapkan, karena UKM ini berada di lingkungan pendidikan, maka perlu dicari korelasi antara sulap dan ilmu pengetahuan. Ilmu yang paling erat kaitannya dengan sulap ialah sains. Adapula nantinya ilmu mengenai public speaking, yang perlu dikuasai untuk dapat tampil di hadapan publik.
            “Sulap itu benar-benar bukan magic, tapi dari keterampilan dan dari sains juga,” kata Reksha.
            Reksha mengilustrasikan Joe Sandy, jebolan ajang pencarian bakat The Master itu dapat menjadikan ilmu matematika sebagai suatu pertunjukan yang menghibur. Selain yang dilakukan Joe Sandy dengan ilmu matematikanya, Reksha juga mengungkapkan bahwa aliran sulap fakir (yang biasa melakukan adegan berbahaya) juga tidak lepas dari sains. Menurutnya, aliran sulap fakir justru yang paling erat kaitannya dengan sains.
            Ketika seorang pesulap fakir memasukan paku ke dalam hidung, kemudian memakunya hingga paku tersebut keluar dari mulut. Sebenarnya hal tersebut sama dengan yang dilakukan tenaga medis pada orang sakit yang sudah tidak bisa makan. Bedanya, tenaga medis memasukan selang untuk sampai ke tenggorokan, bukan paku. Adegan memasukan paku ke dalam hidung ini yang pernah dilakukan salah satu pendiri The Soum, Irfan untuk meyakinkan Direktur Mahasiswa ketika mengajukan The Soum untuk menjadi UKM enam tahun silam.
            “Sebenarnya sama saja dengan memasukan selang. Bedanya, kalau selang yang memasukan kan tenaga medis. Kalau paku kesannya jadi seram, dengan catatan paku itu tidak tajam dan sudah disterilkan. Itu tanpa dipaku pun sudah masuk sendiri, karena sudah ada salurannya. Cuman dipaku seperti itu agar lebih dramatis saja,” terang Reksha yang masih mengingat kejadian itu.
            Semua dapat dijelaskan melalu sains. Jika dokter yang melihatnya, kata Reksha, dokter tersebut pasti sudah mengetahuinya. Lantaran dilakukan oleh pesulap dan dilihat oleh orang awam, banyak yang menganggap aliran sulap fakir menggunakan sihir dan ilmu hitam. Reksha menambahkan, dalam melakukan pertunjukan sulap fakir, yang dibutuhkan ialah latihan sampai terampil juga keberanian.

UKM yang Unik
Masih dalam proses latihan The Soum, anggota-anggotanya begitu semangat mengasah keterampilan bermain sulap. Seperti halnya Wildan Habib, mahasiswa Teknik Mesin angkatan 2016 ini mengaku menyukai aliran sulap klasik. Aliran sulap klasik ini merupakan sulap yang menggunakan kartu sebagai mediumnya.
   Foto: Nisa Maria Ulfa
­Kumpul rutin The Soum pada Kamis (30/3) di Kerang, UPI, Setiabudhi, Bandung. Salah satu anggotanya, Aji sedang mempraktikan magic on the street. 

            “Saya suka aliran klasik, tapi baru bisa manipulasi kartu doang. He-he. Kalau teman-teman ada yang fokus di mentalis seperti Deddy Corbuzier,” kata Wildan terkekeh.
            Delapan bulan mengikuti UKM ini, Wildan awalnya tertarik karena The Soum merupakan UKM sulap pertama di Indonesia. Begitupun dengan Asep Supriatna, mahasiswa Pendidikan Akuntansi angkatan 2015 ini mengetahui The Soum dari demonstrasi orientasi pengenalan kampus. Ketika itu, kata Asep The Soum menampilkan trik sulap wanita yang masuk ke dalam kotak, kemudian ditusuk dari berbagai arah, setelah itu wanita tadi keluar dengan kondisi badan yang utuh. Menurutnya, UKM ini unik.

            “Awalnya saya mengira UKM ini berbau mistis, tapi setelah ikut bergabung masuk UKM ini ternyata semua real dan nyata. Ini mah tentang ilmiah saja, bagaimana kita mencari kebenaran tentang sesuatu,” pungkas Asep.

(Tugas Praktik Lapangan 1, Penulisan Berita Khas)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar