![]() |
| Foto: Instagram thesoum_upi
Alvin
menunjukan aliran sulap fakirnya pada gelaran Mantra: The Night Magic Show pada
Jumat (12/08/2016)
|
Mahasiswa hidup di lingkungan pendidikan yang sarat akan pengetahuan. Sebagai ‘agen perubahan’ mahasiswa mengemban tugas untuk dapat menciptakan penemuan-penemuan melalui berbagai riset. Untuk dapat melakuan hal tersebut, diperlukan pola pikir mendasar yang perlu dimiliki mahasiswa yakni, logis dan kritis.
“Mahasiswa hakikatnya dibentuk untuk
memiliki pola pikir ilmiah, di mana mereka berpikir bukan semata-mata karena
refleks dugaan. Melainkan, karena ada landasan secara logis,” ujar Fachrurroji,
mahasiswa Pendidikan Akuntansi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).
Fachrurroji mengilustrasikan, adanya
skripsi sebagai tahap akhir menuju kelulusan. Dengan penyusunan skripsi, pola
pikir ilmiah seorang mahasiswa diuji untuk membuat suatu pengetahuan baru. Tak
hanya dalam skripsi, menurutnya, masalah yang selalu muncul dalam berbagai
konteks, memerlukan cara berpikir yang logis untuk menciptakan solusi dari
sebuah permasalahan.
Selain itu, mahasiswa identik dengan
pola pikir yang kritis. Pola pikir seperti ini membuat mahasiswa dapat
menemukan kekeliruan-kekeliruan yang terjadi pada suatu perbuatan tertentu. Di
Universitas Padjadjaran (Unpad) saja, pada dua tahun kepemimpinan Rektor Unpad Prof. Dr. med. Tri Hanggono
Achmad, dr., Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Keluarga Mahasiswa (Kema)
Unpad membuat kuisioner untuk mengevaluasi kinerjanya. Evaluasi ini dilakukan
untuk mengetahui pencapaian-pencapaian mana yang harus dievaluasi dan mana yang
harus dikritisi.
“Ranah mahasiswa itu lembaga
keilmuan, mereka diidentikan dengan ilmu di dalam institusi tersebut, yang mana
dalam pencarian ilmu itu daya kritis dan logika jadi syarat,” ujar Mulia
Ramdhani, Ketua Lembaga Pengkajian & Pengabdian Masyarakat Demokratis
(LPPMD) Unpad.
Namun,
di tengah konvergensi pola pikir mahasiswa yang logis dan kritis ini terdapat
Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) sulap yakni, The Society of UPI Magicians (The
Soum). Apakah dengan adanya kegiatan sulap yang sering dikaitkan dengan hal
yang bersifat magis di lingkungan pendidikan ini dapat menggeser cara berpikir
mahasiswa yang identik dengan hal yang bersifat ilmiah? Nyatanya tidak.
Sains dalam Trik Sulap
Reksha
Laksana adalah salah satu dari empat pendiri UKM The Soum. Ditemui di sela-sela
latihan sulap di Amplyteater UPI, Reksha antusias bercerita. Sementara
adik-adiknya di The Soum sedang mempraktikan “magic on the street” yaitu, “sulap jalanan”. Salah satu anggota The
Soum yakni Aji nampak sedang memainkan satu set kartu di hadapan teman-temannya
sendiri yang menjadi penonton. Reksha mengungkapkan, karena UKM ini berada di
lingkungan pendidikan, maka perlu dicari korelasi antara sulap dan ilmu
pengetahuan. Ilmu yang paling erat kaitannya dengan sulap ialah sains. Adapula
nantinya ilmu mengenai public speaking,
yang perlu dikuasai untuk dapat tampil di hadapan publik.
“Sulap itu benar-benar bukan magic, tapi dari keterampilan dan dari
sains juga,” kata Reksha.
Reksha mengilustrasikan Joe Sandy,
jebolan ajang pencarian bakat The Master itu dapat menjadikan ilmu matematika
sebagai suatu pertunjukan yang menghibur. Selain yang dilakukan Joe Sandy
dengan ilmu matematikanya, Reksha juga mengungkapkan bahwa aliran sulap fakir
(yang biasa melakukan adegan berbahaya) juga tidak lepas dari sains.
Menurutnya, aliran sulap fakir justru yang paling erat kaitannya dengan sains.
Ketika seorang pesulap fakir
memasukan paku ke dalam hidung, kemudian memakunya hingga paku tersebut keluar
dari mulut. Sebenarnya hal tersebut sama dengan yang dilakukan tenaga medis
pada orang sakit yang sudah tidak bisa makan. Bedanya, tenaga medis memasukan
selang untuk sampai ke tenggorokan, bukan paku. Adegan memasukan paku ke dalam
hidung ini yang pernah dilakukan salah satu pendiri The Soum, Irfan untuk
meyakinkan Direktur Mahasiswa ketika mengajukan The Soum untuk menjadi UKM enam
tahun silam.
“Sebenarnya sama saja dengan
memasukan selang. Bedanya, kalau selang yang memasukan kan tenaga medis. Kalau
paku kesannya jadi seram, dengan catatan paku itu tidak tajam dan sudah
disterilkan. Itu tanpa dipaku pun sudah masuk sendiri, karena sudah ada
salurannya. Cuman dipaku seperti itu agar lebih dramatis saja,” terang Reksha
yang masih mengingat kejadian itu.
Semua dapat dijelaskan melalu sains.
Jika dokter yang melihatnya, kata Reksha, dokter tersebut pasti sudah
mengetahuinya. Lantaran dilakukan oleh pesulap dan dilihat oleh orang awam,
banyak yang menganggap aliran sulap fakir menggunakan sihir dan ilmu hitam.
Reksha menambahkan, dalam melakukan pertunjukan sulap fakir, yang dibutuhkan
ialah latihan sampai terampil juga keberanian.
UKM yang Unik
Masih
dalam proses latihan The Soum, anggota-anggotanya begitu semangat mengasah
keterampilan bermain sulap. Seperti halnya Wildan Habib, mahasiswa Teknik Mesin
angkatan 2016 ini mengaku menyukai aliran sulap klasik. Aliran sulap klasik ini
merupakan sulap yang menggunakan kartu sebagai mediumnya.
![]() |
Foto: Nisa Maria Ulfa
Kumpul rutin The Soum pada Kamis (30/3) di
Kerang, UPI, Setiabudhi, Bandung. Salah satu anggotanya, Aji sedang
mempraktikan magic on the street.
|
“Saya suka aliran klasik, tapi baru bisa manipulasi kartu doang. He-he. Kalau teman-teman ada yang fokus di mentalis seperti Deddy Corbuzier,” kata Wildan terkekeh.
Delapan bulan mengikuti UKM ini,
Wildan awalnya tertarik karena The Soum merupakan UKM sulap pertama di
Indonesia. Begitupun dengan Asep Supriatna, mahasiswa Pendidikan Akuntansi
angkatan 2015 ini mengetahui The Soum dari demonstrasi orientasi pengenalan
kampus. Ketika itu, kata Asep The Soum menampilkan trik sulap wanita yang masuk
ke dalam kotak, kemudian ditusuk dari berbagai arah, setelah itu wanita tadi
keluar dengan kondisi badan yang utuh. Menurutnya, UKM ini unik.
“Awalnya saya mengira UKM ini berbau
mistis, tapi setelah ikut bergabung masuk UKM ini ternyata semua real dan nyata. Ini mah tentang ilmiah saja, bagaimana kita mencari kebenaran tentang
sesuatu,” pungkas Asep.
(Tugas Praktik Lapangan 1, Penulisan Berita Khas)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar