Menuju Gilimanuk
Tiket kapal feri menuju Gilimanuk hanya Rp.6000. Angin laut di malam hari yang kencang membuat perut saya yang sudah tidak enak, tambah lagi tidak enaknya:( Ini pertama kalinya untuk saya naik kapal laut, walau kerasanya seperti diam saja, tapi kenapa bikin perut tidak enak, yah? Mungkin ini yang namanya mabok laut:( teman saya terus menyemangati, walaupun cuman ngomong “Ayo, Nis, kuat, Nis!” tapi asli memotivasi banget.
Di atas kapal, ada insiden menegangkan yaitu, copet yang masih anak kecil tertangkap dan dihakimi awak kapal. Memang ada yang melerai, tetapi ketika ada salah satu awak kapal yang menjambak rambutnya kemudian menamparnya, uhhh berasa gimana gitu. Kasihan:( katanya, dia sudah sering beraksi di sana dan ini terangkap kedua kalinya, sedih, yah:(
Penyebrangan menuju Gilimanuk memakan waktu satu jam. Ketika kapal hampir menepi, kami pun turun bersama penumpang lainnya. Masih di dalam kapal, teman saya berinisiatif bertanya kepada seorang bapak, bagaimana untuk menuju terminal Ubung. Ternyata bapak tersebut adalah seorang kondektur bus:( jelas dia menawarkan bisnya untuk kita tumpangi dengan ongkos Rp60.000. Kami pikir ya sudahlah, agar tidak usah mencari-cari lagi bus nanti di Gilimanuk. Sudah tengah malam pula.
Preman Jahat tapi Membantu
Mengetahui dari Gilimanuk ke terminal Ubung memakan waktu sekitar empat jam. Kami tidur, karena situasi dan kondisi bus yang gelap dan remang-remang sangat mendukung, meskipun saat itu AC-nya bocor. Nikmati ae, lah! Saat sedang nyenyak-nyenyaknya bobo, kawanan preman naik ke bus, kemudian marah-marah, membangunkan kami yang sedang mimpi indah, menyuruh kami untuk turun atau barang-barang kami akan dibuang, ancamnya. Saya kira ini ada operasi, karena waktu itu sedang naiknya isu bom Thamrin, ternyata bukan :( kami-kami ini yang masih lulungu turun saja walaupun enggak ngerti, ya. Saat itu saya menyadari ini pukul 03.00 dinihari dan saya sedang berada di terminal Mengwi. Bus yang kami tumpangi tadi lenyap entah kemana, kemudian si preman-preman ini menawarkan jasa angkutan menggunakan mobil omprengan-nya (baca: mobil plat hitam yang digunakan unruk angkutan umum). Oh ternyata… gini amat orang cari rezeki:( preman-preman itu tanya mau kemana, saya bilang mau ke terminal Ubung. “Habis itu?”, tanya salah satu orang. “Mau ke Kuta”. “Ya sudah 150.000 seorang. Gimana?”. Dari situ saya bertemu rombongan lain yang menuju tempat yang sama, tapi doi drama sekali nangis-nangis, katanya tidak suka sedang tidur dibentak-bentak disuruh turun. Saya hanya bengong mendengar dia curhat. Akhirnya, setelah negosiasi hebat, saya dengan rombongan tadi menggunakan jasa angkutan bapak preman dengan ongkos Rp.33.000 per orang. Jauh, ya, dari yang dia tawarkan tadi:( kami pun diantar menuju Poppies Lane 2.
Positifnya, kami tidak usah ke terminal Ubung dulu lah, ya. Bisa diantar langsung ke tempat yang dituju. Terima kasih sudah memfasilitasi kami bapak preman. Kami diturunkan di Jalan Kuta dan berpisah dengan rombongan lain menuju penginapan masing-masing. Saat itu pukul 04.00 dinihari, dari Jalan Kuta menuju losmen (Alhamdulillah di Kuta masih ada losmen) harus berjalan cukup jauh. Sepanjang jalan saya tidak menikmati pemandangan bule-bule yang baru pulang dari kelab malam dengan keadaan mabuk dan mengendarakan motor secara gagaleongan, beberapa pribumi juga mengucapkan “Asalamualaikum” (kareana saya berhijab) ketika lewat di hadapan mereka. Cukup ngeri, yah, ketika subuh-subuh harus jalan dengan pemandangan yang tidak menyenangkan. Untung kami wanita tangguh. Sampai di losmen, ternyata penjaga losmennya juga masih tidur:( Awalnya, enggak tega untuk bangunin bapaknya, tapi saya juga enggak kuat pengen tidur:( kemudian bapak itu pun bangun dan menanyakan kamar untuk berapa orang. “Dua orang”, jawab saya. “Mari saya antar”, kami pun diantar menuju kamar yang sangat cukup untuk dua orang. Terdapat dua tempat tidur, dua lemari, kamar mandi, kipas angin, dan satu set kursi meja di depan kamar. Mulanya saya was-was, takut harganya mahal melihat fasilitasnya “Rp100.000 per malam, bayarnya nanti saja kalau mau check out, yah.”. Syukurlah.
Saya pun merebahkan tubuh di kasur, tidur sebentar, kemudian bangun untuk salat Subuh. Entah pada waktunya atau tidak, karena saat itu saya tidak menyadari kalau di sana sudah Waktu Indonesia Tengah (WITA), kemudian saya melanjutkan tidur saya sampai siang. Saya tumbang:(
Selama di Bali
Selama di Bali saya tidak membuat rundown khusus, karena ada teman saya di sana yang bersedia mengantar kami. Jadi, saya pikir ya biar dia yang menentukan kemana saja kami akan dibawa, kami tinggal ngikut he-he. Menurut rundown yang saya susun sebelumnya, kami akan menghabiskan waktu tiga hari di Bali (jadinya dua hari, sih, karena hari pertama saya benar-benar tumbang).
Hari pertama, saya habiskan untuk istirahat, karena badan rasanya sudah enggak karuan. Kami menghabiskan berdus-dus obat masuk angin, tapi saya yang lumayan parah, sih. Kami hanya menikmati pantai Kuta, di hari pertama dan malamnya teman saya menawarkan diri untuk mengerok saya, saya pun bersedia he-he. Selama masa-masa tumbang itu kami mulai give up dan mengeluh cantik untuk pulang naik pesawat saja, membayangkan harus kembali naik kapal feri dan mual-mual lagi. Belum lagi perjalanan dengan kereta dan menikmati kebosanan belasan jam. Tapi tiket kereta yang sudah saya pesan di awal hingga kembali ke Bandung, sayang untuk dihanguskan dan enggak ada juga, sih, uang buat naik pesawat wk-wk. Itu hanya angan. Efek masuk angin begitu, ya:(
Hari kedua, teman saya yang di Denpasar menjemput ke losmen dan saya menyewa motor yang disediakan losmen seharga Rp70.000 per hari. Kami pun menyusuri pantai-pantai di sana dan berburu oleh-oleh. Saat itu, Made mengantar kami ke pantai Sanur, makan lumpia yang asli enak banget seharga Rp.5000. Libur tahun baru saat itu sudah lewat, hingga pantai di sana sangat sepi, berasa pantai milik sendiri.
 |
| Pantai Sanur |
 |
| Berasa pantai milik sendiri |
 |
| Jalanan pesisir pantai yang dipenuhi resto dan hotel menghadap ke laut |
 |
| Lumpia yang enak banget |
Setelah itu, Made mengajak kami ke rumahnya dengan sebelumnya membeli rujak yang sangat enak. Rujaknya mangga muda pakai kuah, gitu, karena sebelumnya Made tinggal di Bandung juga, jadi selera kita cukup sama mungkin, yah. Selama perjalanan menggunakan motor, panas sekali:( matahari menyengat kulit tangan dan kaki saya yang waktu itu pakai sandal. Belum lagi saat itu macet, karena ada upacara ngaben. Budget kami memang tidak cukup untuk sewa mobil untuk menyusuri pantai-pantai di Bali. Namanya juga backpacker, yah. Istirahat sebentar dengan makan rujak di rumah Made, kami melanjutkan ke tempat oleh-oleh dan di sana saya kalap:( budget untuk oleh-oleh ini saya pisahkan dari budget perjalanan, ya. Keterbatasan waktu Made, membuat kami harus mengakhiri jalan-jalan ini, Made mengantarkan kami kembali ke losmen. Setelah beristirahat sebentar, kami menikmati petang di pantai Kuta. Sunset pantai Kuta ini petjah banget, sih. Pertama kali buat saya lihat sunset di pantai seindah ini. Lebih parah lagi, sih, teman saya, dia baru pertama kali ke pantai dan langsung ke Kuta:(
 |
| ala-ala high by the beach |
 |
| biar kayak di tumblr-tumblr |
 |
| no caption needed |
Malamnya, kami berdiskusi tentang perjalanan pulang besok, saya mengutarakan kalau saya tidak ingin menyebrang malam lagi. Mungkin jika di siang hari birunya laut akan terlihat dan mengurangi mabok laut. Akhirnya, kami menyepakati akan check out dan melanjutkan perjalanan pagi hari.
Pada hari terakhir kami di Bali, Made kembali datang ke losmen ketika saya sedang berkemas. Made mengantarkan pie susu yang telah saya pesan kemarin. Saya berpamit dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Made yang sudah menjadi guide kami selama di Bali. Perjalanan kami dari losmen ke terminal Ubung menggunakan ojek online seharga Rp25.000. Dari terminal Ubung menuju Gilimanuk menggunakan bus kecil dengan ongkos Rp35.000 dan empat jam perjalanan.
Kesulitan yang kami hadapi selama di Bali adalah mencari makanan berat halal yang cocok di kantong, susah banget:( Sebetulnya sudah kami siasati dengan membawa makanan kering dari rumah seperti tempe kering dan abon, tapi satu-satunya warung di Poppies Lane yang bisa kami beli nasinya saja, beberapa kali bilang “Tidak masak nasi, Mbak. Yang beli sepi”. Alhasil, kami majukan sarapan ke makan siang, malamnya kami pergi ke minimarket untuk menyeduh mie instan cup atau bubur instan:’) atau jika beruntung kami akan menemukan warung yang menjual nasi bungkus ayam (suwir) taliwang seharga Rp6.000. Kesulitan lainnya ialah menentukan arah kiblat, sebelum melihat sunset kami salat menghadap mana saja berubah-rubah. (padahal tinggal instal aplikasi penunjuk arah kiblat)
Kembali Menerjang Lautan
Keputusan untuk pulang pagi hari benar-benar pilihan yang tepat, jadinya sepanjang perjalanan menggunakan bus bisa sambil menikmati pemandangan laut dan sawah, warna biru dan hijau beneran bikin adem mata. Waktu penyebrangan pun bisa lihat birunya laut dan kapal-kapal lainnya, walaupun mendung tetap saja saya mah baru lihat pemandangan seperti ini:( jadi berasa bagus aja ha-ha. Hal ini sedikit mengurangi mabok laut he-he.
 |
| Sudah berani keluar kapal untuk mengambil foto ini |
 |
| Pakai fitur panorama |
Sampai pelabuhan Banyuwangi sore hari, kami pun langsung menuju stasiun, padahal keberangkatan keretanya baru besok pagi. Mulanya, kami akan bermalam di stasiun saja, tetapi menjelang malam stasiun tersebut sudah sepi. Tidak ada lagi kedatangan maupun keberangkatan. Keberangkatan kereta paling cepat adalah kereta kami besok pagi. Salat Magrib masih kami laksanakan di mushola stasiun. Namun, menjelang Isya stasiun pun menjadi gelap, kami parno sendiri. Saya berinisiatif untuk mencari penginapan sekitar stasiun saja, walaupun tangguh kami juga wanita:( ketika membeli nasi bungkus depan stasiun untuk makan malam, bapak penjual nasi tersebut merekomendasikan penginapan untuk bermalam. Ternyata di samping stasiun terdapat banyak penginapan. Sebetulnya seperti rumah warga, kemudian kamarnya disewakan. Satu kamar sederhana dengan kamar mandi di luar (karena benar-benar rumah) itu kami sewa dengan harga Rp50.000. kami pikir ya sudahlah, daripada tidur di stasiun tapi enggak tenang:(
Kembali ke Jogja
Pagi sekali kami berkemas, bersiap untuk perjalanan menuju Jogja. Sebelum masuk stasiun, kami menyempatkan membeli nasi bungkus yang seperti semalam kami beli seharga Rp6.000. Kami membeli dua bungkus masing-masing untuk makan siang nanti di kereta, jadi enggak usah beli makanan di kereta he-he.
Sampai di Stasiun Lempuyangan malam hari, kami dijemput teman yang sebelumnya menemani kami di Jogja. Sewaktu di kereta, kami berdiskusi di hari terakhir kami backpacker-an ini harus tidur enak dan nyenyak. Kebetulan, uang yang tersisa saat itu cukup untuk menginap di hotel yang ber-AC he-he (penginapan yang kami singgahi sebelumnya hanya dilengkapi kipas angin yang bikin masuk angin, kalau tidak dinyalakan gerah). Hotel tempat kami menginap dapat disewa per jam. Saat itu kami hanya menyewa selama 20 jam sampai pukul 17.00 dengan biaya sekitar Rp200.000. Setelah menyimpan barang dan sedikit bersih-bersih teman kami mengajak untuk wisata malam di Jogja he-he. Hanya keliling kota saja, seperti mengunjungi Monumen Tugu Jogja, KM 0, Benteng Vredeburg, Sayidan, dan angkringan dimana kami makan nasi kucing dan minum kopi jos he-he.
 |
| Monumen Tugu Jogja, abaikan mata lelah saya. |
Sudah kenyang, kami diantar kembali ke hotel untuk beristirahat. Kamar hotel yang hanya berukuran sekitar 3 x 5 m2 tidak mengurangi ke-happy-an kami bisa tidur di tempat ber-AC dan bisa kembali menonton televisi. Udik memang:( tapi itu lah kami he-he. Malam itu kami tidur sangat nyenyak.
Keesokan harinya kami mengunjungi Taman Sari, konon Taman Sari ini tempat mandinya para raja he-he. Seperti bangunan historis Jogja lainnya, Taman Sari ini memiliki arsitektur yang antik khas Jawa. Letaknya tidak jauh dari Keraton Jogjakarta. Biarkan foto yang berbicara lah, yah.
 |
| Jangan gagal fokus |
 |
| bersandar... |
 |
| Berasa lagi dimana ya... |
Di Taman Sari kami tidak dapat berlama-lama, karena harus segera berkemas. Teman saya pulang dengan keberangkatan kereta pukul 17.00 menuju Cirebon, sedangkan kereta saya baru berangkat malam hari pukul 19.00 menuju Stasiun Kiaracondong. Walaupun berbeda jam keberangkatan, kami tetap check out di waktu yang sama. Saya ikut mengantarkannya ke stasiun. Sembari menunggu kereta, saya menyempatkan diri berburu gelang di Malioboro he-he. Setelah membeli souvenir di Malioboro dan membeli makanan untuk di kereta nanti, saya kembali ke stasiun dan menunggu kereta saya menuju Bandung. Saat itu Jogja turun hujan. Merupakan hal yang romantis untuk saya, hujan-hujan menunggu kereta di stasiun. Meskipun sendirian enggak mengurangi esensi dari romantis itu, kok. Iya sendiri:( sekitar pukul 04.00 saya sampai di Bandung dengan selamat. Itu lah perjalanan satu minggu kami yang ripuh dan melelahkan, tetapi menyenangkan he-he :D
Unspecific Budgeting