Kamis, 04 Agustus 2016

(Ceritanya) Backpackeran Bandung - Jogjakarta - Bali (part 1)


Perjalanan backpacker ini sebetulnya cerita liburan semester lalu (Januari 2016), hanya baru berniat membuat blog dan menuliskannya akhir-akhir ini, berkat waktu liburan yang panjang dan saya enggak kemana-mana. Mengingat ketika backpacker saya banyak mendapat informasi dari blog juga, saya harap tulisan ini dapat memberi sedikit gambaran dan informasi buat kamu yang pengen menikmati eksotisnya pantai-pantai di Bali dengan budget minimalis. Sebenarnya, backpacker itu tak selalu tentang budget yang minimalis, tetapi sensasi berbeda dari perjalanan yang harus ditempuh lebih jauh itu akan mendatangkan banyak cerita dan banyak pengalaman juga tentunya. Mengenai budgeting akan saya jabarkan di akhir tulisan ini. With 1000k, you can go to Bali! (from Bandung). Ini bisa dibilang pengalaman pertama saya backpacker dan pertama kali juga untuk saya menginjakan kaki di Bali he-he. Jadi, dari segi persiapan dan perbekalan benar-benar disiapkan secara matang. 

Perjalanan Bandung - Jogjakarta
Saya mengawali perjalanan menggunakan kereta ekonomi dari Stasiun Kiaracondong (Bandung) menuju Stasiun Lempuyangan (Jogja). Mengapa tidak dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Tugu Jogja? Nah, yang perlu diketahui backpacker pemula, Stasiun Kiaracondong itu merupakan stasiun untuk kereta kelas ekonomi, dan tujuannya Stasiun Lempuyangan, sedangkan Stasiun Bandung itu didominasi oleh kereta bisnis dan eksekutif, meskipun ada yang kelas ekonomi tetap saja harganya jauh lebih mahal dari kereta ekonomi di Stasiun Kiaracondong. Saat itu saya menggunakan kereta Kahuripan malam dengan pertimbangan harganya yang lebih murah Rp10.000 dari kereta pagi atau siang (tiket kereta malam Rp90.000, sedangkan kereta yang jalan pagi atau siang Rp100.000), juga supaya saya bisa tidur di perjalanan dan sampai Jogja pagi. 
  Perjalanan Bandung-Jogja menggunakan kereta memakan waktu sembilan jam. Sampai di Stasiun Lempuyangan waktu Subuh, saya menyempatkan untuk salat di mushola stasiun dan bersih-bersih di kamar mandi stasiun yang cukup bersih dan nyaman. Hari masih gelap saat itu, sebelum menuju ke penginapan yang saya rencanakan sebelumnya, saya sarapan dulu di warung depan stasiun. Sarapan dengan soto di sana seharga Rp6.000, di Bandung mana soto harga segitu :( Waktu lihat Google Maps ternyata letak penginapan yang telah direncanakan sebelumnya jauh dari stasiun. Padahal, saya butuh penginapan yang dekat dengan stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi keesokan harinya. Setelah tanya pemilik warung, saya disarankan untuk ke sebuah hotel dekat sana, pemiliki warung itu pun menunjukkan jalannya. Ternyata hotel tersebut enggak dekat-dekat banget, ada kali dua kilometer dan saya jalan sambil gendong carrier yang penuh dan berat:’) so sad ya, ketika ekspektasi tak sejalan dengan realita:( ya setelah melewati dua lampu merah dan tanya-tanya orang lagi, akhirnya sampai di hotel yang dimaksud, harga per malamnya Rp150.000 harga ini jauh dari penginapan yang saya rencanakan sebelumnya seharga Rp60.000 per malam, tapi ya sudahlah, disyukuri saja he-he. 
  
Jelajah Kulonprogo
Saya sudah janjian sebelumnya dengan teman saya dari Solo jadi bisa menuju Kulonprogo menggunakan motornya, dia juga bersama temannya sehingga cukup memudahkan mobilitas saya he-he. Destinasi pertama, mulanya menuju Kalibiru, tetapi di tengah jalan ada insiden truk terguling sehingga kami harus merubah rundown yang telah disusun sebelumnya. Alhasil, kami memutarbalikkan motor menuju Kedung Pedut. Kedung Pedut adalah air terjun yang aliran airnya berwarna hijau toska, Kedung Pedut masih terletak di daerah Kulonprogo. Untuk menuju ke sana memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dari pusat kota Jogja melewati jalan yang kanan kirinya rimbun pepohonan. Tiket masuk ke air terjun ini hanya Rp3000 dan parkir motor Rp2000.
  Untuk menuju air terjun, kami harus trekking sekitar 20 menit dari tempat parkir. Selama trekking terdengar suara gemercik air yang bikin enggak sabar untuk cepat sampai. Ketika aliran airnya sudah terlihat, kami sudah membayangkan air terjun yang begitu indah. Benar saja, ketika sampai keindahan air terjun Kedung Pedut melampaui ekspektasi kami, aslinya ternyata sangat indah. Byur! Setelah mengganti pakaian langsung saja kami berenang di bawah air terjun Kedung Pedut. Ah! Senang sekali rasanya saat itu.
take a selfie!
air terjun dengan kolam kecil untuk berenang

air terjun besar dengan kolam dalam tidak dapat digunakan berenang
  Setelah puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan ke Kalibiru. Di perjalanan kami mampir di warung nasi untuk makan siang. Makan dengan nasi rames di sana hanya Rp.6000 :( murah banget ya Allah :’) sampai di parkiran motor Kalibiru, kami harus jalan kaki menanjak menuju loket. Tiket masuk ke sana Rp3.000, kami berjalan lagi menuju spot foto di atas pohon yang saat itu sedang kekinian. Untuk berfoto di atas pohon dikenakan biaya Rp.10.000, bisa menggunakan jasa foto atau menggunakan kamera sendiri. Tentu ada biaya tambahan untuk menggunakan jasa foto, biayanya variatif untuk setiap spot foto. Di pohon tempat saya berfoto ini dikenakan biaya Rp20.000 untuk empat foto dan untuk berfoto dengan pemandangan waduk Sermo ini kami harus mengantri:’)
setiap yang naik pohon dilengkapi tali pengaman

galau ala-ala

  Ketika hari menjelang petang, kami pulang dengan hati senang he-he. Saya diantar sampai hotel dan teman-teman saya kembali ke asalnya:( Malam itu mie instan cup yang saya bawa dari Bandung jadi menu makan malam, karena pas sampai hotel sudah malas kemana-mana:( dilanjutkan istirahat, charge energi untuk melanjutkan perjalanan besok.
  
Jogjakarta - Banyuwangi
Pagi sekali saya bangun, mandi, salat, kemudian bersiap menuju Stasiun Lempuyangan. Pengalaman ketika jalan kaki dari stasiun menuju hotel sambil gendong carrier yang engap. Saya memutuskan untuk naik becak dengan ongkos Rp20.000, kalau ini asli enggak tega untuk nawar, karena bapaknya sudah sepuh:( Oh iya, backpacker-an ini saya enggak sendiri lho, yah. Sama teman yang kayaknya baru pertama backpacker-an juga, karena kebanyakan dia mah terima beres saja :( Kereta menuju Stasiun Banyuwangi Baru pergi pukul 07.15 dan kami lupa beli sarapan dan perbekalan makanan untuk di kereta. Alhasil, kami membeli makanan di kereta seharga Rp20.000 per porsi. Agak enggak ikhlas, sih, sebenarnya mengingat kemarin-kemarin kalau makan cuman Rp.6000. Jadinya kami akalin satu porsi untuk berdua wk-wk. Siangnya kami membeli lagi untuk makan siang. Masih sama. Satu porsi untuk berdua:’)
  Perjalanan selama 14 jam dipenuhi kebosanan dan ke-bete-an. Belasan stasiun disinggahi, orang-orang di kereta pun silih berganti, Stasiun Banyuwangi Baru adalah destinasi terakhir. Jadi ya, kami turun di stasiun paling akhir. Kebosanan dan ke-bete-an itu kami isi dengan bergosip dan tidur. Ya begitulah. Sampai di Stasiun Banyuwangi Baru pukul 21.15. Saya senang, keretanya tepat waktu. Yeay! Sampai stasiun, kami mampir ke mushola untuk jamak salat Magrib dan Isya. Setelah keluar dari mushola, stasiun sepi! Hiii. Keluar dari stasiun, kami mampir di warung nasi untuk makan, di sana banyak bapak-bapak yang sepertinya supir (disimpulkan dari truk dan mobil yang terparkir di depan warung) sedang mengobrol dan ngopi-ngopi cantik. Oh ya, makan dengan ayam di warung tersebut Rp.10.000 per porsi he-he. Ibu penjaga warungnya ramah sekali, ia menanyakan kenapa makanku tidak habis. Saya jadi enggak enak. Maaf ya bu, perut saya sedang tidak enak mungkin jet lag wk-wk. 
  Dari Stasiun Banyuwangi Baru ke pelabuhan jaraknya dekat, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Saat jalan menuju pelabuhan, ada beberapa pria menyebalkan yang mukanya tak terlihat karena gelap bertanya dengan nada mengejek “Mau ke mana, Mbak?”, tanya salah satu pria. “Bali”, jawab saya singkat. “Ngapain ke Bali, Mbak? Enggak rame, tau.”, nada bicara yang menjengkelkan membuat saya ingin mendorong mereka ke tengah laut.
  
berlanjut ke part 2...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar