Kamis, 22 September 2016

Menulis dengan Logika Ala Pidi Baiq




foto: Syifa Nadia Puteri

Sewaktu Sekolah Menengah Pertama (SMP) sekitar tahun 2009. Aku banyak dijejali musik-musik indie. Terutama band-band indie asal Bandung yang kala itu marak populasinya. Dari sekian banyak band tersebut, aku menemukan satu lagu di playlist kakakku yang judulnya agak nyeleneh berjudul "Tonk Gandeng" yang artinya "Jangan Berisik". Nama bandnya pun tidak kalah anehnya yaitu, The Panas Dalam. Mulanya, aku hanya terkekeh menemukan ada lagu seperti ini, begitu mendengarkannya aku terpingkal-pingkal. Kok ada ya, orang senyeleneh buat lagu seperti itu.
   Lirik dalam lagu tersebut awalnya kupikir hanya lirik biasa yang dibuat dengan iseng, seperti "Tonk gandeng, aya nu gering. Urang mah bae, da dulurna. Ha-ha-ha..." jika dibahasa Indonesiakan kira-kira seperti ini "Jangan berisik, ada yang sakit. Aku sih boleh, kan saudaranya. Ha-ha-ha". Setelah aku duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA), aku baru menyadari bahwa lagu tersebut menyindir praktik Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) dimana kita boleh melakukan apa pun yang menyimpang jika kita memiliki kedekatan dengan penguasa.
    Lagu lain dari The Panas Dalam yang sama nyelenehnya adalah "Rintihan Kuntilanak", "Budak Baheula", "Phedophillia", dan masih banyak lainnya. Setelah kutelusuri, otak dibalik kenyelenehan band ini adalah Pidi Baiq. Orang yang mengklaim dirinya sebagai Imam Besar The Panas Dalam ini, selain menjadi musisi juga seorang penulis. Novelnya yang fenomenal ialah Dilan, novel tersebut terbagi menjadi dua bagian yaitu, Dilan: Dialah Dilanku Tahun 1990 dan Dilan: Dialah Dilanku Tahun 1991.
    Ditemui di kafe The Panas Dalam miliknya, di kawasan Saparua, Bandung, pria yang kerap disapa Ayah ini bercerita mengenai proses kreatif dibalik tulisan-tulisannya. Memikirkan tentang banyak hal adalah kunci utama. Saking banyak yang ia pikirkan, hingga ia memikirkan suatu hal yang out of the box, tidak pernah terpikirkan oleh orang lain. Orang lain cenderung menganggapnya remeh-temeh, tetapi baginya memiliki makna.
    Tersebutlah ayam dan nyamuk. Dalam pikirnya, ayam yang selalu datang ke rumah, kemudian orang rumah berusaha untuk mengusir, ayam tersebut tidak pantang menyerah, ia tetap datang ke rumah dengan menyamar menjadi ayam goreng. Lalu nyamuk, Pidi menaruh perasaan iri terhadap hewan ini. Hewan yang kecil, tetapi dialah satu-satunya hewan yang berani menggigit presiden dan polisi. Dia saja yang berukuran badan jauh lebih besar dari nyamuk tersebut tidak dapat melakukannya.
     Kita mungkin bisa tertawa dengan cerita ayam dan nyamuk. Akan tetapi, apakah Pidi Baiq dapat disalahkan dengan statement demikan? Tentu tidak! Hal-hal tersebut memang terkesan humor, tetapi jika ditelaah memang benar adanya. Dalam tulisannya, Pidi Baiq menggunakan alasan-alasan logis dalam memandang suatu hal. Penggunaan logika ini dikemas menjadi tulisan yang ringan dan enak dibaca, bahkan orang-orang tidak akan menyadari ketika membaca tulisan Pidi Baiq, logikanya juga sedang turut serta.
    Buah dari pemikiran Pidi mengenai banyak hal ini, tidak hanya berupa pikiran konyol tentang ayam dan nyamuk saja, tetapi dapat berupa kutipan-kutipan romantis yang terdapat pada novel Dilan. Salah satunya adalah "Jangan rindu, ini berat. Kau tak akan kuat. Biar aku saja.", kutipan ini menggambarkan kasih sayang seseorang yang tau akan beratnya menahan rindu, kemudian ia menawarkan diri untuk menanggung beban rindu tersebut, karena tidak tega pada pasangannya. Ini bukan puisi cinta yang di dalamnya terdapat kata-kata puitis yang sukar dipahami. Hanya kalimat singkat, tetapi "ngena". Romantismenya lebih "dapet", ketimbang puisi romantis yang harus ditelaah untuk mengerti artinya. Kembali lagi, logika ikut bermain di sini.
    Dari cerita Pidi Baiq ini, memberikan pemahaman bahwa proses kreatif dan inspirasi-inspirasi dalam menulis itu bisa didapat dari hal-hal yang ada disekitar kita. Yang dibutuhkan adalah tingkat kepekaan kita terhadap hal-hal kecil yang terdapat disekitar. Be aware! 

Kamis, 01 September 2016

Nuhun Malela: Menyambangi "Mini Niagara Waterfalls" Curug Malela


Kali ini saya akan bercerita pengalaman saya berkunjung ke Curug Malela awal tahun lalu. Hmmm… bicara tentang curug yang artinya air terjun, Bandung Barat memang memiliki beberapa air terjun dengan ketinggian yang variatif. Di daerah Parongpong, Cimahi sendiri terdapat air terjun seperti Curug Cimahi, Curug Pelangi, Curug Layung yang sudah dijadikan objek wisata. Belum lagi curug yang belum terjamah, karena belum dijadikan objek wisata seperti Curug Bugbrug. 

Curug Bugbrug, Parongpong, Cimahi

  Berangkat jauh dari air terjun-air terjun tersebut, Kabupaten Bandung Barat memiliki air terjun yang dijuluki “mini Niagara waterfalls”. Meski masih terletak di Kabupaten Bandung Barat, untuk menuju tempat tersebut diperlukan waktu tempuh selama kurang lebih empat jam dari pusat kota Bandung (dari artikel-artikel yang saya baca sih cuman tiga jam, tapi saya nyampenya segitu).

Lokasi Curug Malela
Terletak di Desa Cicadas, Kecamatan Rongga, Sindanglaya, Gunung Halu, Kabupaten Bandung Barat Curug Malela ini memang memiliki tingkat kesulitan yang ekstra untuk dikunjungi. Mulai dari jaraknya yang jauh dari kota Bandung, hingga jalan menuju curug ini yang sulit dilalui kendaraan bermotor, terutama motor-motor matic dan bebek, karena jalannya yang masih terdiri dari bebatuan juga lumpur.
  Dari pusat kota Bandung, untuk menuju curug ini kami melewati Cimahi - Batujajar - Cihampelas - Cililin - Sindang Kerta - Gunung Halu - Bunijaya. Untuk kamu yang ingin mengunjungi tempat ini, persiapkan matang-matang estimasi waktu (waktu itu saya baru jalan jam 09:00). Berangkat pagi sekali, supaya pulangnya gak kemaleman (kaya saya) :( Soalnya bakal banyak kejadian tak terduga buat kamu yang pertama ke tempat ini, apa lagi kalau ke sananya banyakan.
  Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan yang indah, jika sudah melewati Cililin, hamparan kebun teh Montaya bakal bikin mata seger. Belum lagi aliran sungai yang kamu susuri, gemerciknya bikin adem telinga. Dari Bunijaya untuk menuju Desa Cicadas diperlukan kehati-hatian yang ekstra, karena jalan yang akan dilalui sangat terjal dan terdiri dari batu-batuan. Ditambah lagi saat itu sedang musim hujan, jalanan menjadi berlumpur dan licin, terdapat banyak kubangan yang mengancam keselamatan. Meski perlu perjuangan ekstra, motor matic dan bebek kami masih bisa melewatinya. Pastikan kendaraan kamu dalam kondisi yang prima ya, kalau mau ke sini.

Jalan berlumpur banyak kubangan
© Eem

Pastikan kondisi motornya dalam keadaan baik, ya.
© Nisa

yang dibonceng harus turun dan jalan kaki biar motor tetap stabil
© Eem


Objek Wisata Curug Malela
Setelah melewati jalan yang bikin sakit perut, kami sampai di pintu masuk dengan membayar tiket sebesar Rp.10.000, kemudian istirahat di sebuah warung yang terdapat di sana. Tempat parkirnya sudah cukup luas dapat menampung kurang lebih 70 motor dan lima mobil. Akan tetapi, akan sangat riskan jika membawa mobil ke tempat ini, kecuali mobil khusus off road
lokasi parkir dan pintu masuk
©Eem

Kami tidak dapat berlama-lama istirahat di sini, karena dari pintu masuk harus melanjutkan trekking selama satu jam untuk menuju Curug Malela :’)
  Jalur trekking-nya sudah di kondisikan oleh pengelola objek wisata, dengan adanya anak tangga dan besi pembatas. Setelah itu, kami melewati persawahan, melalui jalan setapak. 

jalur trekking pada awal pintu masuk
©Eem

Anak tangga penuh lumpur huhu
©Eem

masih jalur anak tangga yang penuh lumpur
©Eem

Jalur trekking melewati pepohononan
©Eem

Pemandangan sawah yang dapat ditemui di jalur trekking
©Eem


Di jalur trekking terdapat space untuk melihat Curug Malela dari kejauhan. Hal tersebut menyemangati kami untuk segera sampai sana:’)

Curug Malela dari kejauhan 1
©Nisa

Curug Malela dari kejauhan 2
©Nisa


Sangat tidak recommended untuk ke sini pada saat musim hujan, karena jalur trekking selanjutnya hanya jalan setapak yang terdiri dari tanah merah yang kalau musim hujan jadi sangat licin. Kemudian, kami menuruni anak tangga yang hanya dibuat dari batang-batang pohon. Makin sulit lah jalannya :(
masih di jalur trekking
©Nisa

Pakai sepatu khusus trekking, ya. Minimal running shoes. Jangan yang begini bentuknya.
©Nisa


Curug Malela
Setelah menyusuri jalur trekking, menanjak dan menuruni anak tangga selama kurang lebih satu jam, sampailah kami di “mini Niagara waterfall” sekitar pukul 14:00. Subhanallah ya:’) terdapat sedikit tempat seperti ground untuk sekedar gelar tikar atau anak outdoor mah biasanya bawa fly sheet buat alas duduk sambil menikmati Curug Malela yang indah dan memesona. Terdapat pula tempat yang dapat digunakan untuk berfoto dengan latar Curug Malela. Kalo saya sih selain, foto-foto di sini makan bekel yang dibawa dari rumah he-he. Tau lah ya, gimana lapernya setelah melewati perjalanan tadi:(
  Curug Malela ini salah satu lukisan Tuhan di tanah Pasundan yang indah menurut saya. Debit airnya sangat besar, karena sedang musim hujan pula airnya menjadi cokelat, enggak bening kaya di foto-foto yang saya temui di google:’) tapi tidak sedikit pun mengurangi keindahan curug ini Masya Allah:’) Jadi sekali lagi tidak disarankan untuk ke sini pada musim hujanya, ya.





diambil pakai lensa fix, jadi dekat sekali
©Nisa
abaikan penampakan saya yang hinyai to the max
©Liska


  Karena debit airnya yang besar, tidak ada yang berenang di aliran curug ini. Kalau sekedar main air mah boleh lah ya. Main-main di bebatuan gitu. Tetap hati-hati ya, karena licin:( menghabiskan waktu untuk foto-foto, tak lama kemudian… hujan turun:’) kebetulan di situ ada satu warung yang pakai terpal. Satu warung itu dijadikan tempat berteduh semua pengunjung:’) sesak sih, udah pasti. Alhasil, gabisa banyak ambil foto, khawatir kamera basah:( Tapi ambil hikmahnya saja ya, toh walaupun enggak bisa diabadikan dengan foto, bisa diabadikan dengan tulisan seperti ini. He-he.
mereka yang bermain-main di bebatuan
©Nisa


Enggak ada yang berenang, airnya gede gitu
©Nisa

Guyang dalam kekhawatrian:(
©Nisa

  
Nuhun Malela
Perjalanan menuju tempat parkir tidak menjadi lebih mudah:’) karena kami harus kembali melewati jalur trekking dengan menanjak huhu. Priceless moment sekali memang. Ada yang sampai lepas sepatunya, karena memang sangat licin. Sepatu-sepatu kami pun ada yang sudah tidak berbentuk sepatu. Ada yang sandal gunungnya copot juga, pokonya banyak macamnya:( Fisik yang prima sangat diperlukan ketika kamu memutuskan untuk mengunjungi Curug Malela, karena memang menguras banyak tenaga.


Licin cin cin cin
©Eem
kami pulang kesorean huhu
©Eem

  Kami pulang kesorean, bahkan saat hari mulai gelap masih harus berkutat dengan jalanan berbatu dan lumpur huhu. Belum lagi ada insiden nyasar waktu pulang, nyasarnya jauh lagi:( terus ada teman kami yang hipotermia, karena waktu perjalanan pulang itu memang turun hujan. Ah pokoknya #NuhunMalela. Saya sampai rumah dengan selamat dan pakaian kotor pukul 00:00.
  Trip ke Curug Malela ini kasih pembelajaran bahwa Bandung itu tidak sekedar Cibaduyut - Asia Afrika - Dago - Lembang. Bandung Raya itu luaaaaaaaaaaaaas sekali. Nuhun Malela. Sekian







Sabtu, 06 Agustus 2016

Selain Terdapat Rumah Pohon, Kareumbi juga Merupakan “Rumah” bagi Pohon

Terletak di tiga kabupaten sekaligus yaitu, Kabupaten Bandung, Kabupaten Garut, dan Kabupaten Sumedang, Taman Buru Gunung Masigit Kareumbi (TBMK) menjadi ekowisata berbasis lingkungan. Selain itu, kawasan ini juga dijadikan sebagai hutan konservasi. Terdapat penangkaran rusa, area perkemahan, jogging track, dan rumah pohon yang selalu menjadi spot andalan para pengunjung.


Perjalanan yang ditempuh sekitar 13 KM dari Cicalengka tidak akan terasa jauhnya, jika disuguhi keindahan alam yang menjadi pemandangan sepanjang perjalanan. Persawahan terbentang seluas mata memandang, ditengahnya terdapat aliran sungai yang berasal dari Curug Cinulang, pada musim hujan air itu berwarna cokelat tercampur tanah, gemercik suaranya memanjakan setiap telinga yang mendengar. Dikelilingi bukit-bukit hijau membuat segarnya udara pedesaan lebih terasa dan sangat jauh dari hiruk pikuk perkotaan yang sesak dengan asap knalpot dan polusi limbah pabrik. 

  Meski sudah diaspal, terdapat beberapa jalan berlubang yang dapat membahayakan keselamatan pengendara. Dikarenakan musim hujan, terdapat longsoran tanah yang menutupi setengah badan jalan. Namun, longsoran tanah itu tak dibiarkan terlalu lama, dengan segera warga setempat bergotong-royong untuk membersihkan timbunan tanah yang menutupi setengah badan jalan tersebut. Agar jalan yang menjadi akses menuju Kareumbi dapat dilalui oleh pengendara. 
  
  Jalan dengan batu kerikil menyambut kedatangan para wisatawan di Kareumbi. Meski begitu, motor matic dan motor bebek masih bisa melaluinya. Dengan membayar tiket sebesar Rp11.250, suasana alam yang riuh dengan suara burung-burung saling bersahutan, rindangnya pepohonan, dan udara yang tidak terkontaminasi polusi sudah dapat dinikmati. Menurut Kepala Pengelola TBMK Darmanto, Kareumbi ini awalnya dikelola oleh Perhutani. Namun, kini kawasan ini diamanahkan kepada Wanadri sebagai pengelola. Di sini, Wanadri ditantang agar tak hanya naik gunung, tetapi juga menjaga dan mengelola gunung. Dalam pengelolaan ini, Wanadri sama sekali tidak mendapat keuntungan material sepeser pun. Biaya yang dikeluarkan pengunjung untuk tiket masuk murni untuk membayar masyarakat sekitar yang bekerja di kawasan Kareumbi.
  
  Dalam hal ini, pihak Wanadri secara tidak langsung memberi edukasi kepada warga sekitar untuk mencintai dan menjaga alam yang dianugerahkan Tuhan pada wilayahnya. Warga diajak untuk menjaga alam dengan cara mempekerjakannya dalam mengelola kawasan Kareumbi ini. Dalam hal parkir kendaraan pengunjung, pihak Wanadri menyerahkan wewenang pada Karang Taruna sekitar. Dengan demikian, kekayaan alam yang berada di wilayah Kareumbi dapat dirasakan manfaatnya oleh warganya sendiri.

rumah pohon menjadi spot yang diminati pengunjung
pengunjung menjadikan rumah pohon sebagai spot berfoto
rumah pohon memiliki beberapa desain berbeda

  Di kawasan Kareumbi ini terdapat beberapa area yang cukup menarik seperti, penangkaran rusa, Desa Wisata Cigumentong, jogging track, bike track, perkemahan, dan yang selalu menjadi spot favorit pengungjung ialah rumah pohon. Di spot tersebut, pengunjung biasanya berfoto dengan latar rumah pohon. Pohon-pohon yang terdapat di area rumah pohon tersebut juga acap kali dijadikan spot untuk hammocking, ayunan gantung yang diikatkan di batang pohon satu dan pohon lainnya yang belakangan sedang hits di kalangan anak muda. 
naik ke hammock
hammock juga dapat dipasang di kolong rumah pohon
take a selfie!
Uniknya, tak hanya memiliki rumah-rumah panggung yang terbuat dari pohon, Kareumbi ini juga merupakan rumah bagi pohon. Melalui program “Wali Pohon” yang dicanangkan Wanadri untuk kelestarian alam di Kareumbi menjadikan Kareumbi ini “rumah” bagi pohon-pohon. 
  
  Program Wali Pohon ini ditujukan bagi para pengunjung Kareumbi. Pengunjung yang ingin ikut andil dalam melestarikan alam Kreumbi dapat mengikuti program ini dengan mengeluarkan biaya Rp50.000 untuk satu pohon atas nama individu dan Rp100.000 atas nama komunitas. Biaya tersebut dialokasikan untuk garansi dan perawatan pohon selama tiga tahun. Pengunjung yang berpartisipasi dalam program Wali Pohon ini akan mendapat sertifikat sebagai bukti keikutsertaan dalam program Wali Pohon. Pohon yang telah ditanam di kawasan Kareumbi murni atas nama dan milik partisipan. Pohon tersebut terjamin perawatannya dan tak akan hilang, karena partisipan dapat log in melalui website Kareumbi untuk memantau pertumbuhan pohon yang ditanamnya.
  
  Fachrurroji salah satu pengunjung Kareumbi yang ikut berpatisipasi dalam program Wali Pohon mengaku, tempat ini menyuguhkan sejuta ilmu yang bermanfaat. “Tempat ini bisa menjadi alternatif destinasi ngadem yang anti-mainstream”, tuturnya. Fachrurroji juga mengapresiasi etika dan tanggung jawab sosial Wanadri yang mampu memberdayakan warga sekitar sebagai pekerja dan strategi agar warga sekitar dapat ikut andil menjaga kelestarian alam di sekitar tempat tinggalnya. Kareumbi dan pengelolaan yang profesional oleh Wanadri patut menjadi contoh pengelolaan taman konservasi-konservasi kekayaan alam lainnya, baik di Jawa Barat, maupun provinsi lainnya di Indonesia. 
  
  
  

Kamis, 04 Agustus 2016

(Ceritanya) Backpackeran Bandung - Jogjakarta - Bali (part 2)


Menuju Gilimanuk
Tiket kapal feri menuju Gilimanuk hanya Rp.6000. Angin laut di malam hari yang kencang membuat perut saya yang sudah tidak enak, tambah lagi tidak enaknya:( Ini pertama kalinya untuk saya naik kapal laut, walau kerasanya seperti diam saja, tapi kenapa bikin perut tidak enak, yah? Mungkin ini yang namanya mabok laut:( teman saya terus menyemangati, walaupun cuman ngomong “Ayo, Nis, kuat, Nis!” tapi asli memotivasi banget.
  Di atas kapal, ada insiden menegangkan yaitu, copet yang masih anak kecil tertangkap dan dihakimi awak kapal. Memang ada yang melerai, tetapi ketika ada salah satu awak kapal yang menjambak rambutnya kemudian menamparnya, uhhh berasa gimana gitu. Kasihan:( katanya, dia sudah sering beraksi di sana dan ini terangkap kedua kalinya, sedih, yah:(
  Penyebrangan menuju Gilimanuk memakan waktu satu jam. Ketika kapal hampir menepi, kami pun turun bersama penumpang lainnya. Masih di dalam kapal, teman saya berinisiatif bertanya kepada seorang bapak, bagaimana untuk menuju terminal Ubung. Ternyata bapak tersebut adalah seorang kondektur bus:( jelas dia menawarkan bisnya untuk kita tumpangi dengan ongkos Rp60.000. Kami pikir ya sudahlah, agar tidak usah mencari-cari lagi bus nanti di Gilimanuk. Sudah tengah malam pula.
  
Preman Jahat tapi Membantu
Mengetahui dari Gilimanuk ke terminal Ubung memakan waktu sekitar empat jam. Kami tidur, karena situasi dan kondisi bus yang gelap dan remang-remang sangat mendukung, meskipun saat itu AC-nya bocor. Nikmati ae, lah! Saat sedang nyenyak-nyenyaknya bobo, kawanan preman naik ke bus, kemudian marah-marah, membangunkan kami yang sedang mimpi indah, menyuruh kami untuk turun atau barang-barang kami akan dibuang, ancamnya. Saya kira ini ada operasi, karena waktu itu sedang naiknya isu bom Thamrin, ternyata bukan :( kami-kami ini yang masih lulungu turun saja walaupun enggak ngerti, ya. Saat itu saya menyadari ini pukul 03.00 dinihari dan saya sedang berada di terminal Mengwi. Bus yang kami tumpangi tadi lenyap entah kemana, kemudian si preman-preman ini menawarkan jasa angkutan menggunakan mobil omprengan-nya (baca: mobil plat hitam yang digunakan unruk angkutan umum). Oh ternyata… gini amat orang cari rezeki:( preman-preman itu tanya mau kemana, saya bilang mau ke terminal Ubung. “Habis itu?”, tanya salah satu orang. “Mau ke Kuta”. “Ya sudah 150.000 seorang. Gimana?”. Dari situ saya bertemu rombongan lain yang menuju tempat yang sama, tapi doi drama sekali nangis-nangis, katanya tidak suka sedang tidur dibentak-bentak disuruh turun. Saya hanya bengong mendengar dia curhat. Akhirnya, setelah negosiasi hebat, saya dengan rombongan tadi menggunakan jasa angkutan bapak preman dengan ongkos Rp.33.000 per orang. Jauh, ya, dari yang dia tawarkan tadi:( kami pun diantar menuju Poppies Lane 2.
  Positifnya, kami tidak usah ke terminal Ubung dulu lah, ya. Bisa diantar langsung ke tempat yang dituju. Terima kasih sudah memfasilitasi kami bapak preman. Kami diturunkan di Jalan Kuta dan berpisah dengan rombongan lain menuju penginapan masing-masing. Saat itu pukul 04.00 dinihari, dari Jalan Kuta menuju losmen (Alhamdulillah di Kuta masih ada losmen) harus berjalan cukup jauh. Sepanjang jalan saya tidak menikmati pemandangan bule-bule yang baru pulang dari kelab malam dengan keadaan mabuk dan mengendarakan motor secara gagaleongan, beberapa pribumi juga mengucapkan “Asalamualaikum” (kareana saya berhijab) ketika lewat di hadapan mereka. Cukup ngeri, yah, ketika subuh-subuh harus jalan dengan pemandangan yang tidak menyenangkan. Untung kami wanita tangguh. Sampai di losmen, ternyata penjaga losmennya juga masih tidur:( Awalnya, enggak tega untuk bangunin bapaknya, tapi saya juga enggak kuat pengen tidur:( kemudian bapak itu pun bangun dan menanyakan kamar untuk berapa orang. “Dua orang”, jawab saya. “Mari saya antar”, kami pun diantar menuju kamar yang sangat cukup untuk dua orang. Terdapat dua tempat tidur, dua lemari, kamar mandi, kipas angin, dan satu set kursi meja di depan kamar. Mulanya saya was-was, takut harganya mahal melihat fasilitasnya “Rp100.000 per malam, bayarnya nanti saja kalau mau check out, yah.”. Syukurlah.
  Saya pun merebahkan tubuh di kasur, tidur sebentar, kemudian bangun untuk salat Subuh. Entah pada waktunya atau tidak, karena saat itu saya tidak menyadari kalau di sana sudah Waktu Indonesia Tengah (WITA), kemudian saya melanjutkan tidur saya sampai siang. Saya tumbang:(
  
Selama di Bali
Selama di Bali saya tidak membuat rundown khusus, karena ada teman saya di sana yang bersedia mengantar kami. Jadi, saya pikir ya biar dia yang menentukan kemana saja kami akan dibawa, kami tinggal ngikut he-he. Menurut rundown yang saya susun sebelumnya, kami akan menghabiskan waktu tiga hari di Bali (jadinya dua hari, sih, karena hari pertama saya benar-benar tumbang).
  Hari pertama, saya habiskan untuk istirahat, karena badan rasanya sudah enggak karuan. Kami menghabiskan berdus-dus obat masuk angin, tapi saya yang lumayan parah, sih. Kami hanya menikmati pantai Kuta, di hari pertama dan malamnya teman saya menawarkan diri untuk mengerok saya, saya pun bersedia he-he. Selama masa-masa tumbang itu kami mulai give up dan mengeluh cantik untuk pulang naik pesawat saja, membayangkan harus kembali naik kapal feri dan mual-mual lagi. Belum lagi perjalanan dengan kereta dan menikmati kebosanan belasan jam. Tapi tiket kereta yang sudah saya pesan di awal hingga kembali ke Bandung, sayang untuk dihanguskan dan enggak ada juga, sih, uang buat naik pesawat wk-wk. Itu hanya angan. Efek masuk angin begitu, ya:(
  Hari kedua, teman saya yang di Denpasar menjemput ke losmen dan saya menyewa motor yang disediakan losmen seharga Rp70.000 per hari. Kami pun menyusuri pantai-pantai di sana dan berburu oleh-oleh. Saat itu, Made mengantar kami ke pantai Sanur, makan lumpia yang asli enak banget seharga Rp.5000. Libur tahun baru saat itu sudah lewat, hingga pantai di sana sangat sepi, berasa pantai milik sendiri.
Pantai Sanur

Berasa pantai milik sendiri

Jalanan pesisir pantai yang dipenuhi resto dan hotel menghadap ke laut

Lumpia yang enak banget

Setelah itu, Made mengajak kami ke rumahnya dengan sebelumnya membeli rujak yang sangat enak. Rujaknya mangga muda pakai kuah, gitu, karena sebelumnya Made tinggal di Bandung juga, jadi selera kita cukup sama mungkin, yah. Selama perjalanan menggunakan motor, panas sekali:( matahari menyengat kulit tangan dan kaki saya yang waktu itu pakai sandal. Belum lagi saat itu macet, karena ada upacara ngaben. Budget kami memang tidak cukup untuk sewa mobil untuk menyusuri pantai-pantai di Bali. Namanya juga backpacker, yah. Istirahat sebentar dengan makan rujak di rumah Made, kami melanjutkan ke tempat oleh-oleh dan di sana saya kalap:( budget untuk oleh-oleh ini saya pisahkan dari budget perjalanan, ya. Keterbatasan waktu Made, membuat kami harus mengakhiri jalan-jalan ini, Made mengantarkan kami kembali ke losmen. Setelah beristirahat sebentar, kami menikmati petang di pantai Kuta. Sunset pantai Kuta ini petjah banget, sih. Pertama kali buat saya lihat sunset di pantai seindah ini. Lebih parah lagi, sih, teman saya, dia baru pertama kali ke pantai dan langsung ke Kuta:( 

ala-ala high by the beach
biar kayak di tumblr-tumblr
no caption needed
  Malamnya, kami berdiskusi tentang perjalanan pulang besok, saya mengutarakan kalau saya tidak ingin menyebrang malam lagi. Mungkin jika di siang hari birunya laut akan terlihat dan mengurangi mabok laut. Akhirnya, kami menyepakati akan check out dan melanjutkan perjalanan pagi hari.
  Pada hari terakhir kami di Bali, Made kembali datang ke losmen ketika saya sedang berkemas. Made mengantarkan pie susu yang telah saya pesan kemarin. Saya berpamit dan mengucapkan banyak terima kasih kepada Made yang sudah menjadi guide kami selama di Bali. Perjalanan kami dari losmen ke terminal Ubung menggunakan ojek online seharga Rp25.000. Dari terminal Ubung menuju Gilimanuk menggunakan bus kecil dengan ongkos Rp35.000 dan empat jam perjalanan.
  Kesulitan yang kami hadapi selama di Bali adalah mencari makanan berat halal yang cocok di kantong, susah banget:( Sebetulnya sudah kami siasati dengan membawa makanan kering dari rumah seperti tempe kering dan abon, tapi satu-satunya warung di Poppies Lane yang bisa kami beli nasinya saja, beberapa kali bilang “Tidak masak nasi, Mbak. Yang beli sepi”. Alhasil, kami majukan sarapan ke makan siang, malamnya kami pergi ke minimarket untuk menyeduh mie instan cup atau bubur instan:’) atau jika beruntung kami akan menemukan warung yang menjual nasi bungkus ayam (suwir) taliwang seharga Rp6.000. Kesulitan lainnya ialah menentukan arah kiblat, sebelum melihat sunset kami salat menghadap mana saja berubah-rubah. (padahal tinggal instal aplikasi penunjuk arah kiblat)
  
Kembali Menerjang Lautan
Keputusan untuk pulang pagi hari benar-benar pilihan yang tepat, jadinya sepanjang perjalanan menggunakan bus bisa sambil menikmati pemandangan laut dan sawah, warna biru dan hijau beneran bikin adem mata. Waktu penyebrangan pun bisa lihat birunya laut dan kapal-kapal lainnya, walaupun mendung tetap saja saya mah baru lihat pemandangan seperti ini:( jadi berasa bagus aja ha-ha. Hal ini sedikit mengurangi mabok laut he-he. 
Sudah berani keluar kapal untuk mengambil foto ini

Pakai fitur panorama
  Sampai pelabuhan Banyuwangi sore hari, kami pun langsung menuju stasiun, padahal keberangkatan keretanya baru besok pagi. Mulanya, kami akan bermalam di stasiun saja, tetapi menjelang malam stasiun tersebut sudah sepi. Tidak ada lagi kedatangan maupun keberangkatan. Keberangkatan kereta paling cepat adalah kereta kami besok pagi. Salat Magrib masih kami laksanakan di mushola stasiun. Namun, menjelang Isya stasiun pun menjadi gelap, kami parno sendiri. Saya berinisiatif untuk mencari penginapan sekitar stasiun saja, walaupun tangguh kami juga wanita:( ketika membeli nasi bungkus depan stasiun untuk makan malam, bapak penjual nasi tersebut merekomendasikan penginapan untuk bermalam. Ternyata di samping stasiun terdapat banyak penginapan. Sebetulnya seperti rumah warga, kemudian kamarnya disewakan. Satu kamar sederhana dengan kamar mandi di luar (karena benar-benar rumah) itu kami sewa dengan harga Rp50.000. kami pikir ya sudahlah, daripada tidur di stasiun tapi enggak tenang:(
  
Kembali ke Jogja
Pagi sekali kami berkemas, bersiap untuk perjalanan menuju Jogja. Sebelum masuk stasiun, kami menyempatkan membeli nasi bungkus yang seperti semalam kami beli seharga Rp6.000. Kami membeli dua bungkus masing-masing untuk makan siang nanti di kereta, jadi enggak usah beli makanan di kereta he-he.
  Sampai di Stasiun Lempuyangan malam hari, kami dijemput teman yang sebelumnya menemani kami di Jogja. Sewaktu di kereta, kami berdiskusi di hari terakhir kami backpacker-an ini harus tidur enak dan nyenyak. Kebetulan, uang yang tersisa saat itu cukup untuk menginap di hotel yang ber-AC he-he (penginapan yang kami singgahi sebelumnya hanya dilengkapi kipas angin yang bikin masuk angin, kalau tidak dinyalakan gerah). Hotel tempat kami menginap dapat disewa per jam. Saat itu kami hanya menyewa selama 20 jam sampai pukul 17.00 dengan biaya sekitar Rp200.000. Setelah menyimpan barang dan sedikit bersih-bersih teman kami mengajak untuk wisata malam di Jogja he-he. Hanya keliling kota saja, seperti mengunjungi Monumen Tugu Jogja, KM 0, Benteng Vredeburg, Sayidan, dan angkringan dimana kami makan nasi kucing dan minum kopi jos he-he. 
Monumen Tugu Jogja, abaikan mata lelah saya.
Sudah kenyang, kami diantar kembali ke hotel untuk beristirahat. Kamar hotel yang hanya berukuran sekitar 3 x 5 m2 tidak mengurangi ke-happy-an kami bisa tidur di tempat ber-AC dan bisa kembali menonton televisi. Udik memang:( tapi itu lah kami he-he. Malam itu kami tidur sangat nyenyak. 
  Keesokan harinya kami mengunjungi Taman Sari, konon Taman Sari ini tempat mandinya para raja he-he. Seperti bangunan historis Jogja lainnya, Taman Sari ini memiliki arsitektur yang antik khas Jawa. Letaknya tidak jauh dari Keraton Jogjakarta. Biarkan foto yang berbicara lah, yah.

Jangan gagal fokus


bersandar...

Berasa lagi dimana ya...
  Di Taman Sari kami tidak dapat berlama-lama, karena harus segera berkemas. Teman saya pulang dengan keberangkatan kereta pukul 17.00 menuju Cirebon, sedangkan kereta saya baru berangkat malam hari pukul 19.00 menuju Stasiun Kiaracondong. Walaupun berbeda jam keberangkatan, kami tetap check out di waktu yang sama. Saya ikut mengantarkannya ke stasiun. Sembari menunggu kereta, saya menyempatkan diri berburu gelang di Malioboro he-he. Setelah membeli souvenir di Malioboro dan membeli makanan untuk di kereta nanti, saya kembali ke stasiun dan menunggu kereta saya menuju Bandung. Saat itu Jogja turun hujan. Merupakan hal yang romantis untuk saya, hujan-hujan menunggu kereta di stasiun. Meskipun sendirian enggak mengurangi esensi dari romantis itu, kok. Iya sendiri:( sekitar pukul 04.00 saya sampai di Bandung dengan selamat. Itu lah perjalanan satu minggu kami yang ripuh dan melelahkan, tetapi menyenangkan he-he :D
  
Unspecific Budgeting



  
  


(Ceritanya) Backpackeran Bandung - Jogjakarta - Bali (part 1)


Perjalanan backpacker ini sebetulnya cerita liburan semester lalu (Januari 2016), hanya baru berniat membuat blog dan menuliskannya akhir-akhir ini, berkat waktu liburan yang panjang dan saya enggak kemana-mana. Mengingat ketika backpacker saya banyak mendapat informasi dari blog juga, saya harap tulisan ini dapat memberi sedikit gambaran dan informasi buat kamu yang pengen menikmati eksotisnya pantai-pantai di Bali dengan budget minimalis. Sebenarnya, backpacker itu tak selalu tentang budget yang minimalis, tetapi sensasi berbeda dari perjalanan yang harus ditempuh lebih jauh itu akan mendatangkan banyak cerita dan banyak pengalaman juga tentunya. Mengenai budgeting akan saya jabarkan di akhir tulisan ini. With 1000k, you can go to Bali! (from Bandung). Ini bisa dibilang pengalaman pertama saya backpacker dan pertama kali juga untuk saya menginjakan kaki di Bali he-he. Jadi, dari segi persiapan dan perbekalan benar-benar disiapkan secara matang. 

Perjalanan Bandung - Jogjakarta
Saya mengawali perjalanan menggunakan kereta ekonomi dari Stasiun Kiaracondong (Bandung) menuju Stasiun Lempuyangan (Jogja). Mengapa tidak dari Stasiun Bandung menuju Stasiun Tugu Jogja? Nah, yang perlu diketahui backpacker pemula, Stasiun Kiaracondong itu merupakan stasiun untuk kereta kelas ekonomi, dan tujuannya Stasiun Lempuyangan, sedangkan Stasiun Bandung itu didominasi oleh kereta bisnis dan eksekutif, meskipun ada yang kelas ekonomi tetap saja harganya jauh lebih mahal dari kereta ekonomi di Stasiun Kiaracondong. Saat itu saya menggunakan kereta Kahuripan malam dengan pertimbangan harganya yang lebih murah Rp10.000 dari kereta pagi atau siang (tiket kereta malam Rp90.000, sedangkan kereta yang jalan pagi atau siang Rp100.000), juga supaya saya bisa tidur di perjalanan dan sampai Jogja pagi. 
  Perjalanan Bandung-Jogja menggunakan kereta memakan waktu sembilan jam. Sampai di Stasiun Lempuyangan waktu Subuh, saya menyempatkan untuk salat di mushola stasiun dan bersih-bersih di kamar mandi stasiun yang cukup bersih dan nyaman. Hari masih gelap saat itu, sebelum menuju ke penginapan yang saya rencanakan sebelumnya, saya sarapan dulu di warung depan stasiun. Sarapan dengan soto di sana seharga Rp6.000, di Bandung mana soto harga segitu :( Waktu lihat Google Maps ternyata letak penginapan yang telah direncanakan sebelumnya jauh dari stasiun. Padahal, saya butuh penginapan yang dekat dengan stasiun untuk melanjutkan perjalanan ke Banyuwangi keesokan harinya. Setelah tanya pemilik warung, saya disarankan untuk ke sebuah hotel dekat sana, pemiliki warung itu pun menunjukkan jalannya. Ternyata hotel tersebut enggak dekat-dekat banget, ada kali dua kilometer dan saya jalan sambil gendong carrier yang penuh dan berat:’) so sad ya, ketika ekspektasi tak sejalan dengan realita:( ya setelah melewati dua lampu merah dan tanya-tanya orang lagi, akhirnya sampai di hotel yang dimaksud, harga per malamnya Rp150.000 harga ini jauh dari penginapan yang saya rencanakan sebelumnya seharga Rp60.000 per malam, tapi ya sudahlah, disyukuri saja he-he. 
  
Jelajah Kulonprogo
Saya sudah janjian sebelumnya dengan teman saya dari Solo jadi bisa menuju Kulonprogo menggunakan motornya, dia juga bersama temannya sehingga cukup memudahkan mobilitas saya he-he. Destinasi pertama, mulanya menuju Kalibiru, tetapi di tengah jalan ada insiden truk terguling sehingga kami harus merubah rundown yang telah disusun sebelumnya. Alhasil, kami memutarbalikkan motor menuju Kedung Pedut. Kedung Pedut adalah air terjun yang aliran airnya berwarna hijau toska, Kedung Pedut masih terletak di daerah Kulonprogo. Untuk menuju ke sana memakan waktu sekitar satu setengah jam perjalanan dari pusat kota Jogja melewati jalan yang kanan kirinya rimbun pepohonan. Tiket masuk ke air terjun ini hanya Rp3000 dan parkir motor Rp2000.
  Untuk menuju air terjun, kami harus trekking sekitar 20 menit dari tempat parkir. Selama trekking terdengar suara gemercik air yang bikin enggak sabar untuk cepat sampai. Ketika aliran airnya sudah terlihat, kami sudah membayangkan air terjun yang begitu indah. Benar saja, ketika sampai keindahan air terjun Kedung Pedut melampaui ekspektasi kami, aslinya ternyata sangat indah. Byur! Setelah mengganti pakaian langsung saja kami berenang di bawah air terjun Kedung Pedut. Ah! Senang sekali rasanya saat itu.
take a selfie!
air terjun dengan kolam kecil untuk berenang

air terjun besar dengan kolam dalam tidak dapat digunakan berenang
  Setelah puas bermain air, kami melanjutkan perjalanan ke Kalibiru. Di perjalanan kami mampir di warung nasi untuk makan siang. Makan dengan nasi rames di sana hanya Rp.6000 :( murah banget ya Allah :’) sampai di parkiran motor Kalibiru, kami harus jalan kaki menanjak menuju loket. Tiket masuk ke sana Rp3.000, kami berjalan lagi menuju spot foto di atas pohon yang saat itu sedang kekinian. Untuk berfoto di atas pohon dikenakan biaya Rp.10.000, bisa menggunakan jasa foto atau menggunakan kamera sendiri. Tentu ada biaya tambahan untuk menggunakan jasa foto, biayanya variatif untuk setiap spot foto. Di pohon tempat saya berfoto ini dikenakan biaya Rp20.000 untuk empat foto dan untuk berfoto dengan pemandangan waduk Sermo ini kami harus mengantri:’)
setiap yang naik pohon dilengkapi tali pengaman

galau ala-ala

  Ketika hari menjelang petang, kami pulang dengan hati senang he-he. Saya diantar sampai hotel dan teman-teman saya kembali ke asalnya:( Malam itu mie instan cup yang saya bawa dari Bandung jadi menu makan malam, karena pas sampai hotel sudah malas kemana-mana:( dilanjutkan istirahat, charge energi untuk melanjutkan perjalanan besok.
  
Jogjakarta - Banyuwangi
Pagi sekali saya bangun, mandi, salat, kemudian bersiap menuju Stasiun Lempuyangan. Pengalaman ketika jalan kaki dari stasiun menuju hotel sambil gendong carrier yang engap. Saya memutuskan untuk naik becak dengan ongkos Rp20.000, kalau ini asli enggak tega untuk nawar, karena bapaknya sudah sepuh:( Oh iya, backpacker-an ini saya enggak sendiri lho, yah. Sama teman yang kayaknya baru pertama backpacker-an juga, karena kebanyakan dia mah terima beres saja :( Kereta menuju Stasiun Banyuwangi Baru pergi pukul 07.15 dan kami lupa beli sarapan dan perbekalan makanan untuk di kereta. Alhasil, kami membeli makanan di kereta seharga Rp20.000 per porsi. Agak enggak ikhlas, sih, sebenarnya mengingat kemarin-kemarin kalau makan cuman Rp.6000. Jadinya kami akalin satu porsi untuk berdua wk-wk. Siangnya kami membeli lagi untuk makan siang. Masih sama. Satu porsi untuk berdua:’)
  Perjalanan selama 14 jam dipenuhi kebosanan dan ke-bete-an. Belasan stasiun disinggahi, orang-orang di kereta pun silih berganti, Stasiun Banyuwangi Baru adalah destinasi terakhir. Jadi ya, kami turun di stasiun paling akhir. Kebosanan dan ke-bete-an itu kami isi dengan bergosip dan tidur. Ya begitulah. Sampai di Stasiun Banyuwangi Baru pukul 21.15. Saya senang, keretanya tepat waktu. Yeay! Sampai stasiun, kami mampir ke mushola untuk jamak salat Magrib dan Isya. Setelah keluar dari mushola, stasiun sepi! Hiii. Keluar dari stasiun, kami mampir di warung nasi untuk makan, di sana banyak bapak-bapak yang sepertinya supir (disimpulkan dari truk dan mobil yang terparkir di depan warung) sedang mengobrol dan ngopi-ngopi cantik. Oh ya, makan dengan ayam di warung tersebut Rp.10.000 per porsi he-he. Ibu penjaga warungnya ramah sekali, ia menanyakan kenapa makanku tidak habis. Saya jadi enggak enak. Maaf ya bu, perut saya sedang tidak enak mungkin jet lag wk-wk. 
  Dari Stasiun Banyuwangi Baru ke pelabuhan jaraknya dekat, dapat ditempuh dengan berjalan kaki. Saat jalan menuju pelabuhan, ada beberapa pria menyebalkan yang mukanya tak terlihat karena gelap bertanya dengan nada mengejek “Mau ke mana, Mbak?”, tanya salah satu pria. “Bali”, jawab saya singkat. “Ngapain ke Bali, Mbak? Enggak rame, tau.”, nada bicara yang menjengkelkan membuat saya ingin mendorong mereka ke tengah laut.
  
berlanjut ke part 2...